Selasa, 11 April 2028
Dan Hari Sudah Malam
Ada kalimat pendek dalam Injil hari ini yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri. Setelah Yudas menerima roti dari tangan Yesus, ia segera keluar. Lalu Yohanes menutup adegan itu dengan enam kata: "Pada waktu itu hari sudah malam."
Kelihatannya cuma keterangan waktu biasa. Tetapi Yohanes tidak pernah menulis detail sembarangan. Yudas melangkah keluar dari terang ruangan tempat Yesus, Terang dunia, sedang duduk. Ia melangkah masuk ke dalam gelap. Malam di luar itu adalah gambar dari malam yang sudah lebih dulu turun di dalam hatinya.
Yang membuat kisah ini menusuk adalah kedekatan pengkhianatan itu. Yudas bukan orang asing. Ia satu dari dua belas, ikut makan dari pinggan yang sama, dipercaya memegang kas. Yesus bahkan menyuapinya roti, satu isyarat keramahan yang paling akrab pada zaman itu. Pengkhianatan yang paling perih memang jarang datang dari jauh. Ia datang dari orang yang duduk semeja.
Tetapi malam itu tidak hanya milik Yudas. Di meja yang sama duduk Petrus, penuh percaya diri. "Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!" katanya berapi-api. Yesus menjawab dengan lembut namun pasti: sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali. Dua murid, dua kejatuhan yang sudah membayang di ambang malam itu.
Menariknya, Yesus tetap menyuapkan roti itu ke tangan Yudas. Sampai saat terakhir pintu masih terbuka. Kasih tidak pernah lebih dulu menutup pintu; manusialah yang melangkah keluar lalu menutupnya rapat dari dalam gelap.
Kita sering merasa lebih dekat pada Petrus daripada pada Yudas. Barangkali benar. Tetapi keduanya sama-sama gagal pada malam yang sama. Bedanya bukan pada besar kecilnya kejatuhan, melainkan pada apa yang mereka lakukan sesudahnya. Yudas pergi menjauh ke dalam gelap dan tinggal di situ. Petrus menangis, lalu mencari jalan pulang.
Bacaan pertama menaruh secercah terang di tengah gelap ini. Sang Hamba berkata, "Aku telah bersusah-susah dengan percuma, namun hakku terjamin pada TUHAN." Bahkan ketika segala usaha tampak sia-sia dan malam terasa penuh, ada tangan yang tetap memegang.
Ketika malam turun dalam hidup kita, entah karena dosa sendiri entah karena dikhianati orang, arah langkah kita menentukan segalanya. Menjauh makin dalam ke gelap, atau berbalik mencari terang yang masih menyala di meja.
Tuhan, ketika malam mulai turun dalam hatiku, jangan biarkan aku melangkah menjauh. Tarik aku kembali kepada terang-Mu, seperti Engkau menanti Petrus pulang. Amin.