Senin, 10 April 2028
Wangi yang Memenuhi Rumah
Enam hari sebelum Paskah, di sebuah rumah di Betania, terjadi sesuatu yang mengharukan sekaligus memancing ribut. Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni, minyak yang harganya setara dengan upah kerja hampir setahun, lalu menuangkannya ke kaki Yesus. Bukan setetes, tetapi seluruhnya. Ia menyeka kaki itu dengan rambutnya sendiri. Dan Yohanes mencatat satu detail kecil yang indah: bau minyak itu semerbak memenuhi seluruh rumah.
Cinta memang selalu terasa boros di mata yang menghitung. Yudas segera bersuara. "Mengapa minyak ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" Kedengarannya saleh. Tetapi Yohanes membuka kartunya: ia berkata begitu bukan karena peduli pada orang miskin, melainkan karena ia pemegang kas yang suka mengambil diam-diam. Orang yang hatinya sempit selalu punya alasan bagus untuk menahan.
Barangkali di sinilah kita perlu jujur pada diri sendiri. Kita pun sering menghitung ketika seharusnya menuang. Kita mengukur seberapa banyak orang lain pantas menerima kasih kita, seolah kebaikan adalah anggaran yang harus dijaga jangan sampai jebol. Padahal kasih yang dihitung terlalu cermat sudah kehilangan wanginya sebelum sempat dituang.
Ada dua cara memandang minyak mahal itu. Yudas melihat harga. Maria melihat kepada siapa minyak itu dituang. Bagi Yudas, kasih adalah pengeluaran yang harus ditekan. Bagi Maria, kasih adalah persembahan yang tidak dihitung-hitung. Dan Yesus membela Maria: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku." Perempuan itu, entah sadar entah tidak, sedang mengurapi Tuhannya untuk kematian yang sudah dekat.
Bacaan pertama melukiskan Hamba Tuhan yang lembut: "Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya." Dia yang akan diperlakukan begitu kasar dalam pekan ini ternyata Dia yang paling lembut terhadap yang rapuh. Maria menuang minyak untuk Dia; Dia menjaga nyala yang hampir padam dalam diri kita.
Wangi minyak Maria memenuhi seluruh rumah. Perbuatan kasih memang begitu. Ia tidak bisa disembunyikan di satu sudut; ia menyebar, mengisi ruangan, menempel pada orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, hitung-hitungan Yudas tidak pernah mengharumkan apa pun.
Di rumah kita, wangi apa yang sedang memenuhi ruangan? Aroma kasih yang berani boros, atau bau apak dari kebaikan yang selalu ditahan dan ditawar?
Tuhan, ajar aku mengasihi seperti Maria, tanpa sibuk menghitung untung rugi. Biarlah hidupku menjadi wangi yang memenuhi rumah bagi mereka di sekelilingku. Amin.