Minggu, 9 April 2028
Turun Sampai Dasar
Hari ini Gereja memulai sesuatu yang tampak janggal bila dilihat dari luar. Umat berdiri dengan daun palma di tangan, menyambut seorang Raja yang masuk kota. Lalu, hanya beberapa menit kemudian, bacaan Injil yang panjang membawa kita menyaksikan Raja itu diadili, dicambuk, dan disalibkan. Sorak-sorai dan tangis dalam satu perayaan. Palma dan salib di hari yang sama.
Susunan itu bukan kekeliruan. Justru di situ letak seluruh pesannya. Bacaan kedua hari ini, madah kuno dari surat Filipi, memberi kita petanya. Yesus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya. Ia turun. Dari Allah menjadi hamba. Dari hamba menjadi taat. Dari taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib.
Dunia kita bergerak ke arah sebaliknya. Kita dilatih naik: naik jabatan, naik pengikut, naik pengaruh. Turun dianggap kegagalan. Kalah dianggap aib. Maka jalan Yesus terasa asing. Ia justru memilih turun, dan turun-Nya bukan karena terpaksa, melainkan karena kasih.
Nabi Yesaya sudah melukiskannya jauh sebelumnya, dalam bacaan pertama. "Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku." Tetapi di kalimat yang sama ada keteguhan yang tidak retak: "Aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu." Rendah bukan berarti lembek. Yesus turun dengan hati yang tegar bagai batu.
Itulah paradoks salib. Kekuatan sejati justru menyatakan diri dalam kelemahan yang dipilih dengan sadar. Dunia menyangka yang menang adalah yang paling keras bertahan dan paling pandai naik. Allah menunjukkan sebaliknya: yang menang adalah yang paling dalam berani mengasihi, sampai rela kehilangan segalanya.
Daun palma yang kita pegang hari ini gampang layu. Besok atau lusa ia sudah kering. Kerumunan yang meneriakkan Hosana pada hari Minggu adalah kerumunan yang bisa meneriakkan Salibkan pada hari Jumat. Iman yang hanya ikut sorak-sorai akan ikut pula berbalik ketika angin berubah.
Maka pertanyaannya bukan apakah kita mau melambaikan palma. Yang lebih berat: maukah kita ikut turun bersama Dia? Turun untuk mengalah lebih dulu dalam pertengkaran keluarga. Turun untuk meminta maaf padahal merasa benar. Turun untuk melayani orang yang tidak bisa membalas.
Sebab justru sesudah turun sampai dasar itulah Allah sangat meninggikan Dia. Jalan naik menuju kemuliaan, dalam Kerajaan Allah, ternyata dimulai dengan berani turun.
Tuhan Yesus, Engkau turun sampai ke dasar demi menjemput aku. Beri aku hati yang tidak gengsi untuk mengalah, melayani, dan mengasihi tanpa menghitung. Amin.