Rabu, 12 April 2028
Harga Tiga Puluh Keping
Di pasar, menawar adalah seni. Penjual pasang harga tinggi, pembeli menawar rendah, lalu keduanya bertemu di tengah. Semua barang punya harga, dan tugas pembeli adalah menekannya serendah mungkin. Itu wajar untuk sayur, ikan, atau kain. Menjadi ngeri ketika yang ditawar adalah seorang manusia.
Injil hari ini membuka dengan adegan tawar-menawar. Yudas datang kepada imam-imam kepala dan bertanya terus terang, "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia?" Ia tidak menyebut nama Yesus. Ia hanya menyebut Dia, seolah Gurunya sudah menyusut menjadi sekadar barang dagangan. Mereka menimbang tiga puluh uang perak. Dalam hukum kuno, itu harga seorang budak. Guru yang tak ternilai dihargai setara seorang hamba.
Yang menyayat, Yudas melakukannya sesudah berbulan-bulan berjalan bersama Yesus. Ia menyaksikan orang buta melihat, orang mati bangkit, orang berdosa dipulihkan. Namun semua itu kalah oleh sekantong perak. Ada hati yang bisa melihat mukjizat setiap hari dan tetap memilih uang.
Yang menakutkan bukanlah bahwa Yudas orang jahat sejak awal. Ia dipanggil, diajar, dan diutus, sama seperti sebelas yang lain. Kejatuhannya tidak terjadi dalam satu malam, melainkan dituntun oleh kebiasaan kecil yang dibiarkan: sedikit demi sedikit mengambil dari kas, sedikit demi sedikit menutup hati. Pengkhianatan besar biasanya lahir dari kompromi kecil yang lama dianggap sepele.
Di meja perjamuan, ketika Yesus berkata seorang akan mengkhianati-Nya, para murid bertanya penuh sedih, "Bukan aku, ya Tuhan?" Yudas ikut bertanya, tetapi dengan kata yang sedikit berbeda, "Bukan aku, ya Rabi?" Ia menyebut Yesus Rabi, bukan Tuhan. Sudah ada jarak dalam sapaannya. Mulut masih sopan, hati sudah pergi.
Kita mudah menghakimi Yudas. Tetapi tawar-menawar itu diam-diam hidup juga dalam diri kita. Berapa harga yang membuat kita bersedia menutup mata pada kebenaran? Sebuah promosi, sebuah pertemanan yang menguntungkan, rasa aman, gengsi. Kita jarang menjual Tuhan dengan perak terang-terangan. Kita menjual-Nya dengan diam ketika seharusnya bicara, dengan ikut arus ketika seharusnya menolak.
Bacaan pertama menampilkan Hamba yang justru tidak bisa dibeli. "Tuhan ALLAH menolong aku, sebab itu aku tidak mendapat malu." Dia tidak menawar kesetiaan-Nya kepada Bapa dengan harga berapa pun.
Adakah sesuatu yang sedang kita tawar-menawarkan dengan hati nurani hari ini?
Tuhan, jagalah hatiku dari harga yang membuatku menjual kesetiaan. Biar Engkau tetap kusebut Tuhan, bukan sekadar di bibir, melainkan di seluruh pilihanku. Amin.