‹ Semua renungan

Kamis, 13 April 2028

Kain di Pinggang

Malam ini Gereja masuk ke ruang yang paling akrab: sebuah ruang makan. Bukan istana, bukan panggung, melainkan meja perjamuan bersama para sahabat. Dan di meja itu Yesus melakukan dua hal yang akan dikenang selama-lamanya.

Yang pertama, Ia mengambil roti dan cawan. "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu. Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Bacaan kedua, dari Paulus, adalah rumusan tertua tentang malam itu, ditulis bahkan sebelum Injil-Injil disusun. Dan bacaan pertama mengingatkan bahwa perjamuan ini berakar jauh ke belakang, pada malam Paskah di Mesir, ketika darah anak domba menyelamatkan umat. Malam ini semuanya bertemu: domba Paskah yang lama menemukan penggenapannya dalam Dia yang duduk di meja.

Yang kedua justru yang sering terlupa. Sebelum perjamuan selesai, Yesus bangkit, menanggalkan jubah-Nya, dan mengambil sehelai kain lenan. Ia mengikatkannya pada pinggang-Nya, menuang air ke dalam basi, lalu berlutut membasuh kaki murid-murid-Nya. Kain di pinggang itu adalah pakaian seorang budak. Tuhan dan Guru mengenakan seragam pelayan.

Petrus menolak. "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Reaksi yang bisa kita mengerti. Kaki adalah bagian tubuh yang paling kotor, paling berdebu di jalan tanah. Dan yang berlutut di hadapan kaki kotor itu adalah Dia yang mereka sebut Tuhan. Tetapi jawaban Yesus tegas, "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." Ada kasih yang menuntut kita cukup rendah hati untuk sekadar menerimanya. Petrus, seperti kita, harus belajar bahwa bentuk kerendahan hati yang paling sulit kadang bukanlah melayani, melainkan membiarkan diri dilayani oleh Tuhan. Ada gengsi halus yang membuat kita lebih rela memberi daripada menerima, sebab menerima berarti mengakui bahwa kita membutuhkan.

Dua perbuatan itu ternyata satu. Ekaristi dan pembasuhan kaki tidak bisa dipisahkan. Tubuh yang diserahkan dalam roti adalah tubuh yang berlutut memegang kaki. Menyambut Dia di meja berarti bersedia mengikatkan kain yang sama di pinggang kita sendiri. "Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu," kata-Nya, "supaya kamu juga berbuat sama."

Maka malam ini pertanyaannya jatuh ke tangan kita. Kain siapa yang sedang terikat di pinggang kita? Adakah kaki yang selama ini kita hindari untuk kita basuh: orang serumah yang menyebalkan, tetangga yang pernah menyakiti, orang kecil yang tak bisa membalas jasa?

Tuhan, malam ini Engkau berlutut di depan kaki kami yang kotor. Ikatkan kain pelayanan itu pada pinggangku, dan beri aku keberanian membasuh kaki yang selama ini kuhindari. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →