‹ Semua renungan

Jumat, 14 April 2028

Imam yang Ikut Merasakan

Hari ini altar kosong. Tabernakel terbuka dan lengang. Gereja diam, lonceng berhenti, dan kita berdiri di depan salib. Pada hari ini kata-kata sebaiknya sedikit, sebab yang terjadi terlalu besar untuk banyak bicara.

Nabi Yesaya, tujuh ratus tahun sebelumnya, sudah melukiskan wajah hari ini. "Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan." Dan kalimat yang menjadi inti segalanya, "Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya. Oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." Ia menderita bukan karena salah-Nya sendiri, melainkan karena luka kita.

Di sinilah bacaan kedua menolong kita mengerti mengapa Allah memilih jalan seperti ini. Surat Ibrani berkata kita mempunyai Imam Besar yang bukan imam yang tidak dapat turut merasakan kelemahan kita. Sebaliknya, sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Renungkanlah betapa mengherankannya kalimat itu. Allah tidak menyelamatkan kita dari jauh, dari singgasana yang bersih dan aman. Ia turun masuk ke dalam rasa sakit itu sendiri.

Siapa yang pernah menunggui orang sakit tahu bedanya. Ada penghibur yang berdiri di ambang pintu dan berkata, yang sabar ya. Lalu ada penghibur yang duduk di samping ranjang, menggenggam tangan, karena ia sendiri pernah terbaring di ranjang yang sama. Kata-katanya mungkin sama, tetapi bobotnya berbeda. Yang satu bicara tentang penderitaan; yang lain bicara dari dalam penderitaan.

Yesus di kayu salib adalah penghibur jenis kedua. Ketika kita berdoa dalam sakit, dalam takut, dalam rasa ditinggalkan, kita tidak sedang bicara kepada Allah yang tak paham. Kita bicara kepada Dia yang pernah haus, pernah ditinggal murid-murid-Nya, pernah menyerahkan ibu-Nya kepada orang lain, pernah merasakan tubuh yang dipaku.

Surat Ibrani menutup dengan undangan yang mengejutkan untuk hari sesuram ini: "Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia." Justru pada Jumat Agung, ketika Allah tampak paling kalah, kita paling berani mendekat. Sebab takhta itu ternyata sebuah salib, dan Raja yang duduk di sana memahami setiap luka yang kita bawa.

Hari ini kita hanya diminta berdiri diam di depan-Nya, dan membiarkan diri dikenali oleh Dia yang ikut merasakan.

Yesus, Imam Besar yang ikut merasakan, Engkau tidak menyelamatkan aku dari jauh melainkan dari dalam luka itu sendiri. Ke dalam tangan-Mu yang berpaku, kuserahkan segala sakitku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →