Minggu, 19 Maret 2028
Bapak yang Tidak Banyak Bicara
Hampir setiap keluarga mengenal sosok ini: bapak yang irit kata. Ditanya panjang, jawabnya pendek. Tidak pandai mengungkapkan sayang lewat kalimat. Tetapi sepeda yang rusak diam-diam sudah betul lagi paginya, dan uang sekolah entah bagaimana selalu ada. Kasihnya tidak terdengar, hanya terlihat.
Di tengah jalan Prapaskah ini, bersama seluruh Gereja, kita menatap sosok semacam itu: Yusuf, suami Maria. Injil hari ini menceritakan saat paling sulit dalam hidupnya. Tunangannya mengandung, dan ia tahu anak itu bukan anaknya. Hukum memberinya hak mempermalukan Maria di muka umum. Yusuf memilih jalan lain: menceraikannya diam-diam, melindungi nama perempuan itu bahkan ketika merasa dikhianati. Sebelum mengetahui rencana Allah pun, ia sudah memilih belas kasih.
Lalu malaikat datang dalam mimpi: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu." Dan inilah yang menakjubkan dari Yusuf: sesudah bangun dari tidurnya, ia berbuat seperti yang diperintahkan malaikat. Tidak ada dialog. Tidak ada tawar-menawar. Seluruh Injil tidak merekam satu pun kalimat dari mulutnya. Jawaban Yusuf selalu berbentuk perbuatan: ia mengambil Maria, ia menamai Anak itu, ia bekerja, ia menjaga.
Bacaan pertama membentangkan latar janji itu. Kepada Daud, Allah berjanji membangkitkan keturunan yang takhtanya kokoh untuk selama-lamanya. Janji itu menempuh jalan seribu tahun dan tiba di sebuah rumah tukang kayu di Nazaret. Sungguh mencengangkan cara Allah bekerja: janji sebesar itu digenapi lewat ketaatan seorang bapak sederhana yang bersedia mengubah seluruh rencana hidupnya karena satu mimpi.
Paulus dalam bacaan kedua memuji iman Abraham, yang sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, berharap juga dan percaya. Yusuf mewarisi iman yang sama. Percaya ketika keadaan tidak masuk akal. Taat ketika penjelasan belum lengkap. Bekerja dalam senyap ketika tidak seorang pun bertepuk tangan.
Zaman kita gaduh oleh orang yang berebut ingin didengar. Yusuf memberi kesaksian sebaliknya: kebesaran yang tidak membutuhkan pengeras suara. Allah rupanya sangat bisa bekerja lewat orang-orang pendiam yang setia.
Barangkali panggilan kita pekan ini sederhana: meniru Yusuf. Lebih sedikit berkomentar, lebih banyak mengerjakan. Melindungi nama baik orang alih-alih menyebarkan aibnya. Dan bila kehendak Allah datang mengubah rencana kita: bangun, lalu lakukan.
Santo Yusuf, bapak yang setia dalam diam, doakanlah kami. Tuhan, ajarilah aku mengasihi lewat perbuatan dan taat tanpa banyak tanya, seperti Yusuf. Amin.