‹ Semua renungan

Senin, 20 Maret 2028

Resep yang Terlalu Sederhana

Ada jenis kekecewaan yang aneh di ruang praktik dokter. Pasien datang jauh-jauh, menunggu lama, lalu pulang hanya dengan nasihat: istirahat cukup, minum air putih, kurangi gorengan. Sebagian orang justru kecewa. Rasanya penyakitnya tidak dihargai. Ia berharap obat mahal, tindakan besar, nama penyakit yang terdengar penting.

Naaman, panglima besar Aram, mengalami kekecewaan semacam itu. Ia datang ke Israel membawa perak, emas, dan surat raja demi kesembuhan kustanya. Elisa bahkan tidak keluar menemuinya. Hanya seorang suruhan menyampaikan pesan: mandilah tujuh kali di sungai Yordan. Naaman gusar. "Aku sangka setidak-tidaknya ia datang ke luar dan menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu." Ia sudah membayangkan upacara kesembuhan yang megah, sepadan dengan pangkatnya. Bukankah sungai-sungai Damsyik lebih baik daripada seluruh sungai Israel?

Untunglah para pegawainya berani berkata jujur: seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi ini, hanya mandi. Naaman turun, membenamkan diri tujuh kali, dan tubuhnya pulih seperti tubuh anak kecil.

Yang menghalangi kesembuhan Naaman bukan penyakitnya, melainkan gengsinya. Ia hampir batal sembuh karena obatnya terasa terlalu sederhana untuk orang sebesar dia.

Kemarin kita menatap Yusuf yang taat tanpa banyak kata, dan hari ini Gereja masih merayakan pelindung agung itu. Yusuf dan Naaman berdiri di dua ujung: yang satu langsung bangun dan melakukan perintah, yang satu hampir pergi dengan panas hati. Keduanya akhirnya tiba pada ketaatan yang sama, dan di situlah rahmat bekerja.

Dalam Injil, Yesus menyebut kisah Naaman di rumah ibadat Nazaret, dan para pendengar-Nya marah sampai hendak melemparkan Dia dari tebing. Mengapa semarah itu? Karena Yesus menyentuh gengsi yang sama: rahmat Allah tidak bisa dipesan berdasarkan keturunan, kedudukan, atau kedekatan. Ia mengalir kepada siapa saja yang mau merendahkan diri.

Prapaskah pun sering mengecewakan orang yang mencari perkara hebat. Resepnya itu-itu saja: doa, puasa, sedekah. Terlalu biasa? Justru di situ ujiannya. Kesembuhan jiwa jarang datang lewat perkara besar. Ia datang lewat ketaatan-ketaatan kecil yang dijalani dengan setia, tujuh kali, berulang-ulang, seperti Naaman membenamkan diri di sungai yang keruh itu.

Perintah sederhana apa yang selama ini kuanggap remeh, padahal justru itulah jalan kesembuhanku?

Tuhan, runtuhkanlah gengsi yang menghalangi rahmat-Mu, dan berilah aku kerendahan hati untuk taat pada perkara-perkara kecil. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →