Sabtu, 18 Maret 2028
Tubir Laut
Orang pesisir tahu artinya tubir: bagian laut yang dasarnya tiba-tiba curam, gelap, tak terduga dalamnya. Barang yang jatuh ke tubir tidak diharapkan kembali. Jaring pun tidak berani menjangkaunya.
Ke tempat seperti itulah, kata nabi Mikha, Allah membuang dosa kita: "Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut." Bukan disimpan di gudang untuk diungkit lagi. Dilempar ke tubir. Selesai.
Injil hari ini melukiskan wajah Allah yang sama dalam sosok seorang ayah. Anak bungsunya minta warisan, pergi, dan menghabiskan segalanya. Ketika anak itu pulang, ayahnya melihatnya dari jauh, berlari, merangkul, dan menciumnya. Pidato penyesalan yang sudah dihafal anak itu bahkan tidak selesai diucapkan. Sang ayah sudah sibuk menyuruh orang membawa jubah, cincin, dan sepatu. Anak polah bapa kepradhah, kata orang Jawa: ulah anak, ayah yang menanggung. Ayah yang satu ini menanggungnya dengan sukacita.
Yang sulit justru bagian kita: percaya bahwa dosa yang sudah dilempar-Nya ke tubir itu tidak akan dipancing-Nya kembali. Mengapa kita masih sering menyelam untuk mencarinya?
Bapa yang berlari menyambutku, ajarilah aku pulang tanpa takut dan percaya penuh pada pengampunan-Mu. Amin.