Jumat, 17 Maret 2028
Harga Seorang Adik
Dua puluh syikal perak. Itulah harga yang disepakati sepuluh orang kakak untuk seorang adik. Yusuf, anak kesayangan ayahnya, dilempar ke sumur kosong, lalu dijual kepada kafilah yang lewat. Yang paling mengerikan justru satu kalimat kecil: sesudah melempar adiknya ke sumur, mereka duduk untuk makan. Selera makan mereka tidak terganggu.
Dari mana kebencian sebesar itu? Awalnya kecil saja: iri. Ayah lebih mengasihi Yusuf, dan jubah indah itu setiap hari mengingatkan mereka. Iri yang dibiarkan menahun akhirnya menggali sumur.
Yesus menceritakan perumpamaan yang segaris: penggarap kebun anggur yang membunuh utusan demi utusan, sampai akhirnya membunuh anak si pemilik kebun. "Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita." Yusuf adalah bayangan jauh dari Anak itu, yang juga dijual dan diserahkan oleh orang-orang dekat-Nya.
Namun di tangan Allah, sumur bukan akhir cerita. Yusuf yang dijual kelak menyelamatkan saudara-saudaranya dari kelaparan. Batu yang dibuang tukang bangunan menjadi batu penjuru.
Iri kecil mana yang sedang kupelihara terhadap saudaraku sendiri?
Tuhan, cabutlah iri hati dari akarnya sebelum ia sempat menggali sumur di dalam hatiku. Amin.