Minggu, 12 Maret 2028
Turun Gunung
Orang kampung punya cara sederhana menikmati keajaiban: keluar rumah saat listrik padam. Ketika lampu-lampu mati, langit mendadak ramai. Bintang yang selama ini kalah oleh lampu jalan tiba-tiba muncul beribu-ribu. Orang bisa berdiri lama sekali menengadah, lupa bahwa tadi sedang kesal karena mati lampu.
Di bawah langit seperti itulah Abram dibawa keluar. "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang. Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Abram sudah tua, istrinya mandul. Namun ia percaya, dan kepercayaan itu diperhitungkan Allah sebagai kebenaran. Iman Abram lahir bukan di ruang belajar, melainkan di bawah langit malam, dari kesediaan memandang ke atas.
Injil hari ini juga bercerita tentang pengalaman puncak. Yesus membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus naik gunung. Di sana wajah-Nya berubah, pakaian-Nya putih berkilau-kilauan, Musa dan Elia hadir. Petrus terpesona: "Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah." Ia ingin pengalaman itu diawetkan. Dibuatkan bangunan. Ditinggali selamanya.
Lukas menambahkan catatan halus: Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya. Sebab kemuliaan itu memang bukan untuk dikemahi. Dari dalam awan terdengar suara: "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia." Bukan: dirikanlah kemah bagi-Nya. Melainkan: dengarkanlah Dia. Sesudah itu mereka turun gunung, kembali ke jalan yang menuju Yerusalem, menuju salib.
Kita pun mengenal saat-saat gunung: retret yang menggetarkan, misa yang membuat mata basah, doa yang terasa begitu dekat. Lalu muncul keinginan Petrus dalam diri kita: ingin tinggal di sana terus, dan kecewa ketika hari Senin datang membawa cucian, tagihan, serta pekerjaan yang membosankan. Wong urip iku mung mampir ngombe, kata orang tua dahulu; hidup ini hanya singgah sebentar untuk minum. Gunung adalah tempat singgah minum, bukan tempat menetap.
Pengalaman rohani yang sejati selalu punya pintu keluar yang sama: turun. Musa turun membawa loh perjanjian. Para murid turun membawa pesan dari awan. Kita turun membawa bekal untuk setia di dataran rendah. Kemuliaan di gunung itu diberikan justru sebelum salib, supaya para murid kuat memikul hari-hari gelap sesudahnya.
Minggu kedua Prapaskah ini mengajukan pertanyaan sederhana: apa yang kulakukan dengan pengalaman rohaniku? Kuawetkan sebagai kenangan indah, atau kubawa turun menjadi kesabaran, kejujuran, dan kasih di rumah?
Tuhan Yesus, terima kasih untuk setiap saat gunung dalam hidupku. Berilah aku keberanian untuk turun dan mendengarkan Engkau di tengah hari-hari yang biasa. Amin.