Senin, 10 Januari 2028
Air Mata di Meja
Ada kesepian yang justru paling terasa di tengah keramaian. Di meja makan keluarga besar, saat semua tertawa dan piring penuh, seseorang bisa duduk dengan hati yang perih dan tak seorang pun tahu. Kadang tempat paling ramai adalah tempat paling sunyi bagi orang yang sedang terluka.
Hana mengalaminya persis di meja perjamuan. Setahun sekali keluarga Elkana pergi ke Silo untuk beribadah dan makan bersama. Mestinya itu hari bahagia. Tetapi bagi Hana yang tak kunjung punya anak, hari itu justru paling menyakitkan, sebab Penina, madunya, memakai kesempatan itu untuk menyakiti hatinya. "Ia menangis dan tidak mau makan."
Suaminya, Elkana, mencoba menghibur dengan kalimat yang tulus tetapi tak sepenuhnya mengerti: "Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?" Kadang orang yang paling mengasihi kita pun tidak selalu bisa menyelami luka kita. Ada kepedihan yang terlalu dalam untuk dijawab kata-kata.
Kisah ini tidak menyuruh Hana pura-pura kuat. Alkitab tidak malu mencatat air matanya di meja makan. Dan justru dari perempuan yang menangis inilah kelak lahir Samuel, nabi besar Israel. Air mata yang jujur di hadapan Allah tidak pernah sia-sia.
Mungkin di sekitar kita ada Hana yang sedang tersenyum menutupi luka. Dan mungkin kita sendiri sedang menjadi Hana.
Tuhan, Engkau melihat air mata yang tidak dilihat siapa pun di meja makan kami. Dekaplah setiap hati yang sunyi di tengah keramaian, dan ingatlah kami seperti Engkau mengingat Hana. Amin.