‹ Semua renungan

Selasa, 11 Januari 2028

Doa Tanpa Suara

Kemarin kita meninggalkan Hana menangis di meja makan, terluka karena tak kunjung punya anak. Hari ini kita melihat ke mana ia membawa lukanya: ke rumah Tuhan, ke dalam doa.

Tetapi doanya aneh menurut ukuran zaman itu. Hana berdoa "dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran." Doa tanpa suara. Begitu tak lazimnya sampai imam Eli menyangka perempuan itu mabuk. Yang paling khusyuk justru dikira yang paling kacau.

Ada sesuatu yang menyentuh di sini. Ketika luka sudah terlalu dalam, kata-kata sering habis. Yang tersisa hanya bibir yang bergerak tanpa bunyi, isak yang tertahan, keluhan yang tak bisa dirumuskan. Dan Allah, ternyata, paling fasih membaca doa jenis itu. Ia tidak menunggu kalimat yang rapi. Ia mendengar hati yang tercurah.

Hana sendiri berkata kepada Eli, "aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN." Mencurahkan, seperti menumpahkan seluruh isi wadah tanpa sisa. Itulah doa yang sejati: bukan menyusun kata-kata indah, melainkan menumpahkan diri.

Sesudah itu, "mukanya tidak muram lagi." Persoalannya belum terpecahkan, anak yang dinanti belum lahir, tetapi bebannya sudah berpindah. Ia datang dengan hati penuh, ia pulang dengan hati ringan.

Tuhan, ketika kata-kataku habis, terimalah bibir yang bergerak tanpa suara ini. Bacalah hatiku yang tak sanggup kurumuskan, dan ringankanlah bebanku seperti Kauringankan beban Hana. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →