‹ Semua renungan

Minggu, 9 Januari 2028

Ikut Antre

Antrean adalah tempat yang membuat semua orang setara. Di depan loket atau di pembagian sembako, jabatan dan gelar tidak berlaku. Semua berdiri berderet, menunggu giliran, berbagi tempat dengan orang yang tidak dikenal. Antre selalu sedikit merendahkan, dan mungkin karena itu banyak orang penting enggan melakukannya.

Injil hari ini menyimpan satu detail yang mudah terlewat. "Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis." Yesus juga. Ia ikut antre. Ia berdiri dalam barisan panjang para pendosa yang datang kepada Yohanes untuk mengaku dan bertobat, seakan Ia sama seperti mereka. Padahal Dialah yang, kata Yohanes, "membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak."

Inilah wajah Allah kita. Bukan penguasa yang menjaga jarak dari kerumunan, melainkan Dia yang turun masuk ke barisan, berdiri sebahu dengan yang berdosa. Nabi Yesaya sudah memberi gambarnya jauh hari: seorang gembala yang "menghimpunkan dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya." Allah kita bukan gembala yang berteriak dari kejauhan, melainkan yang menggendong.

Dan justru ketika Yesus berbaur dalam antrean itu, sambil berdoa, langit terbuka dan terdengar suara: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Kalimat itu diucapkan sebelum Yesus berkhotbah, sebelum satu mukjizat pun. Kasih Bapa mendahului segala karya.

Paulus menegaskan pola yang sama kepada Titus. Kita diselamatkan "bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali." Bukan kita yang mendaki menjumpai Allah dengan prestasi; Ia yang turun ke antrean kita.

Kita pun sudah dibaptis. Entah sebagai bayi dalam gendongan atau orang dewasa yang gemetar, atas kita pernah diucapkan kalimat yang sama: anak yang dikasihi. Sering kalimat itu tenggelam oleh suara-suara lain yang berkata kita kurang, kita terlambat, kita tak cukup berharga. Hari Pembaptisan Tuhan mengembalikan urutan yang benar. Kita dikasihi lebih dulu, baru diutus berkarya, bukan sebaliknya.

Hari ini masa Natal ditutup. Besok kita masuk hari-hari biasa: pekerjaan, kemacetan, cucian yang menumpuk. Bekal terbaik memasukinya bukan tekad baru, melainkan satu suara dari langit yang terbuka itu, yang sampai sekarang tidak pernah dicabut.

Bapa, di tengah semua suara yang menilai dan menghakimi aku, biarlah suara-Mu yang paling nyaring: engkau anak-Ku yang Kukasihi. Dan seperti Yesus, berilah aku kerendahan hati untuk berdiri sebaris dengan sesamaku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →