Rabu, 8 Desember 2027
Di Manakah Engkau
Anak-anak suka main petak umpet. Tetapi perhatikanlah: anak kecil yang bersembunyi sebenarnya ingin ditemukan. Kalau terlalu lama tidak ketemu, ia akan batuk-batuk kecil atau menggoyangkan tirai. Bersembunyi itu melelahkan. Ditemukan itu melegakan.
Bacaan pertama hari raya ini memuat pertanyaan pertama Allah kepada manusia dalam seluruh Kitab Suci: "Di manakah engkau?" Adam dan Hawa baru saja jatuh, lalu bersembunyi di antara pepohonan. Allah tentu tahu tempat mereka. Pertanyaan itu bukan soal lokasi. Itu pertanyaan hati: engkau di mana sekarang, sesudah semua ini? Dan sejak hari itu, sejarah manusia adalah sejarah bersembunyi. Kita bersembunyi di balik kesibukan, di balik alasan, di balik saling menyalahkan. Adam menunjuk Hawa, Hawa menunjuk ular.
Tetapi di taman yang porak-poranda itu Allah menanam sebuah janji: keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular. Para bapa Gereja menyebutnya kabar baik yang pertama. Kejatuhan belum selesai diumumkan, rencana penyelamatan sudah disiapkan.
Hari ini kita merayakan buah sulung rencana itu: Maria yang dikandung tanpa noda. Paulus menulis kepada jemaat Efesus bahwa Allah "telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya." Pada Maria, kalimat itu digenapi secara penuh sejak detik pertama hidupnya. Ia disiapkan seperti orang menyiapkan kamar bagi tamu agung: dibersihkan lebih dulu, jauh sebelum tamunya datang.
Maka dengarkanlah bedanya di Injil. Kepada Adam dan Hawa yang bersembunyi, Allah bertanya, "Di manakah engkau?" Kepada Maria, malaikat justru datang menyapa: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Yang satu bersembunyi dari Allah, yang satu didatangi Allah dan tidak lari. Maria terkejut, bertanya, tidak serta-merta paham. Tetapi ia tidak bersembunyi. Jawabannya membuka kembali pintu yang dulu dibanting: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."
Hawa disebut ibu semua yang hidup. Maria menjadi ibu Sang Hidup itu sendiri. Apa artinya bagi kita yang masih sering bersembunyi? Sederhana: berhenti bersembunyi. Pertanyaan "di manakah engkau" masih diajukan Allah setiap hari, dengan suara yang sama lembutnya. Ia bukan mencari untuk menghukum. Ia mencari karena rindu. Dan seperti anak dalam permainan petak umpet, bagian terbaik kita bukan saat berhasil sembunyi. Bagian terbaik adalah saat ditemukan.
Bapa, aku lelah bersembunyi. Bersama Maria yang tak bernoda, ajarilah aku menjawab: jadilah padaku menurut kehendak-Mu. Amin.