‹ Semua renungan

Minggu, 5 Desember 2027

Meratakan Jalan

Menjelang Lebaran atau Natal, dinas pekerjaan umum selalu sibuk. Jalan-jalan ditambal, lubang diaspal, jembatan diperiksa. Alasannya sederhana: ada banyak orang yang akan datang. Jalan yang buruk membuat kedatangan tertunda, atau lebih buruk lagi, membuat orang batal datang.

Adven berasal dari kata Latin adventus, artinya kedatangan. Dan hari Minggu ini semua bacaan bicara tentang persiapan jalan. Yesaya berseru dari pembuangan: "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN! Setiap lembah harus ditutup, setiap gunung dan bukit diratakan." Markus membuka Injilnya dengan mengutip seruan itu, lalu menampilkan Yohanes Pembaptis di padang gurun: jubah bulu unta, makan belalang dan madu hutan, menyerukan pertobatan. Penampilannya sederhana, tetapi seluruh Yudea datang kepadanya; rupanya orang selalu mengenali suara yang jujur.

Menarik bahwa jalan yang harus diratakan itu bukan jalan aspal. Lembah yang harus ditutup dan gunung yang harus diratakan ada di dalam diri kita. Lembahnya bernama putus asa: perasaan bahwa kesalahan kita terlalu dalam untuk diampuni. Gunungnya bernama kesombongan: keyakinan bahwa kita tidak butuh siapa-siapa. Dua-duanya sama-sama menghalangi kedatangan Tuhan. Yang satu terlalu rendah memandang diri, yang satu terlalu tinggi.

Lalu ada pertanyaan yang jujur: kalau Ia memang datang, mengapa lama sekali? Petrus menjawabnya dalam bacaan kedua. Di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun. Yang kita sebut keterlambatan, di mata Allah adalah kesabaran. "Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat." Tuhan tidak terlambat datang. Ia sengaja memberi kita waktu untuk menyelesaikan pekerjaan jalan.

Dan lihatlah ujung nubuat Yesaya. Setelah semua seruan keras tentang gunung dan lembah, gambarnya melunak: "Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya." Yang datang lewat jalan yang kita ratakan itu bukan pasukan pemeriksa. Yang datang adalah gembala yang ingin memangku.

Minggu Adven kedua ini baik dipakai untuk memeriksa jalan masing-masing. Lubang mana yang perlu ditambal? Mungkin sebuah permintaan maaf yang tertunda bertahun-tahun. Gundukan mana yang perlu diratakan? Mungkin gengsi yang membuat kita tidak pernah mau menyapa duluan. Pekerjaan jalan memang berdebu dan tidak enak dilihat. Tetapi hanya lewat jalan yang diperbaiki, tamu agung itu bisa sampai ke rumah kita.

Tuhan, ratakanlah gunung kesombonganku dan timbunlah lembah keputusasaanku, supaya Engkau leluasa datang. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →