‹ Semua renungan

Selasa, 2 November 2027

Bunga di Atas Pusara

Setiap awal November, kompleks pemakaman mendadak ramai. Rumput dibersihkan, nisan dicuci, bunga ditaburkan. Orang Jawa menyebutnya nyekar. Ada yang datang sambil bercerita pelan-pelan, seolah yang di bawah tanah masih mendengar. Mengapa kita melakukan semua itu? Bukankah mereka sudah tiada?

Justru di situ iman kita berbicara: mereka tidak tiada. Ayub, di titik paling gelap hidupnya, ketika kulitnya rusak dan segalanya hilang, mengucapkan kalimat yang mengejutkan: aku tahu, Penebusku hidup. Bukan aku berharap. Bukan mudah-mudahan. Aku tahu. Keyakinan macam ini tidak lahir dari suasana hati; ia lahir dari perkenalan yang dalam dengan Allah.

Yesus dalam Injil hari ini membuka isi hati Bapa: supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Jangan ada yang hilang. Dengarkan baik-baik nada kalimat itu. Itu nada seorang ibu yang menghitung anak-anaknya sebelum menutup pintu malam. Satu pun tidak boleh tertinggal di luar. Bagi Allah, orang-orang yang kita kasihi itu bukan berkas yang sudah ditutup, melainkan anak yang sedang ditunggu pulang.

Paulus memberi alasannya dalam surat kepada jemaat Roma: Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa. Coba pikirkan. Ketika kita jauh dan memusuhi-Nya saja Ia rela mati bagi kita, masakan ketika kematian datang Ia melepaskan genggaman-Nya? Karena itu, kata Paulus, pengharapan tidak mengecewakan.

Maka doa bagi arwah bukan ritual kesedihan. Ia kasih yang menolak berhenti di liang lahat. Maut memang memutus banyak hal: percakapan di meja makan, telepon di akhir pekan, tangan yang biasa digenggam. Tapi ada dua hal yang tidak bisa diputusnya: kasih Allah, dan doa kita. Ketika kita mendoakan mereka, kita sedang mengulurkan tangan melewati batas yang tidak bisa dilewati tubuh. Karena itu pula Gereja tidak pernah berhenti mempersembahkan Misa bagi para arwah. Di altar, yang hidup dan yang mati duduk pada satu meja yang sama.

Hari ini, sebutlah nama-nama itu satu per satu di hadapan Tuhan. Ayah, ibu, kakek, nenek, sahabat, mungkin anak. Sebutkan pelan-pelan, seperti dulu mereka menyebut nama kita dalam doa-doa mereka. Mereka bukan masa lalu. Mereka sedang menantikan kebangkitan, sama seperti kita.

Tuhan, Penebus yang hidup, terimalah saudara-saudari kami yang telah mendahului kami. Jangan ada satu pun yang hilang; bangkitkanlah mereka pada akhir zaman. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →