‹ Semua renungan

Senin, 1 November 2027

Dinding Penuh Foto

Di banyak rumah tua ada satu dinding yang penuh foto. Hitam putih, bingkainya kayu, kacanya mulai buram. Sebagian wajah masih kita kenal. Sebagian tinggal cerita: katanya ini kakek buyut, katanya ini adik nenek. Kita tidak tahu banyak tentang mereka. Tapi satu hal pasti: tanpa mereka, kita tidak pernah ada.

Hari Raya Semua Orang Kudus itu seperti berdiri di depan dinding foto keluarga besar iman. Yohanes melihatnya dalam penglihatan: suatu kumpulan besar yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa. Tidak dapat terhitung. Jadi bukan hanya nama-nama yang masuk kalender liturgi. Bukan hanya yang patungnya berdiri di gereja. Di dalam kumpulan itu ada nenek yang dulu mengajari kita membuat tanda salib. Ada guru agama kampung yang tidak pernah masuk koran.

Yang mengejutkan adalah jawaban atas pertanyaan salah satu tua-tua: dari mana mereka datang? Mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. Aneh, bukan? Mencuci dengan darah kok menjadi putih? Di situlah rahasianya. Putih itu bukan prestasi. Putih itu anugerah. Orang kudus bukan orang yang tidak pernah kotor, melainkan orang yang membiarkan dirinya dicuci.

Lalu bagaimana jalannya? Injil hari ini memberi petanya: Sabda Bahagia. Berbahagialah yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang membawa damai. Perhatikanlah, tidak ada satu pun yang mustahil. Yesus tidak berkata: berbahagialah yang membuat mukjizat. Ia menunjuk hal-hal yang terbuka bagi siapa saja. Ibu rumah tangga bisa. Petani bisa. Pegawai bisa. Anak sekolah bisa. Kekudusan ternyata bukan jalur khusus. Ia jalan umum. Sabda Bahagia bukan tangga menuju panggung, melainkan jalan setapak yang bisa ditempuh dengan sandal jepit.

Surat Yohanes menegaskan: sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata keadaan kita kelak. Orang-orang kudus itu bukan manusia jenis lain. Mereka anak-anak Allah yang sudah sampai; kita anak-anak Allah yang masih di jalan. Dinding foto itu bukan pajangan untuk dikagumi dari jauh. Ia undangan. Undangan yang ditandatangani dengan darah Anak Domba.

Hari ini, wajah siapa yang terpasang di dinding iman kita? Dan beranikah kita bermimpi, pelan-pelan, suatu hari wajah kita ikut tergantung di sana?

Tuhan, Engkau memanggil semua orang menjadi kudus. Cucilah jubahku yang kusam, dan tuntunlah langkahku menyusul kumpulan besar yang tak terhitung itu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →