Selasa, 28 September 2027
Api yang Tidak Jadi Turun
Penolakan itu menyakitkan, dan sakitnya cepat sekali berubah menjadi keinginan membalas. Ditolak salamnya, orang bisa memusuhi bertahun-tahun. Disalip di jalan raya, klakson panjang pun berbunyi.
Kemarin kita mendengar Yohanes mencegah orang berbuat baik karena bukan kelompoknya. Hari ini ia dan Yakobus melangkah lebih jauh. Sebuah desa Samaria menolak menerima Yesus, dan kedua bersaudara itu langsung mengajukan usul: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" Bahkan pembalasan pun mereka bungkus dengan bahasa rohani.
Yesus berpaling dan menegor mereka. Lalu Lukas menutup dengan kalimat pendek yang luas sekali artinya: "Lalu mereka pergi ke desa yang lain." Tidak ada api. Tidak ada kutuk. Penolakan itu tidak dibalas, melainkan dilewati. Yesus sedang mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem untuk menyerahkan nyawa; Ia tidak punya waktu untuk berhenti membenci.
Zakharia memperlihatkan arah hati Allah yang sebenarnya: bangsa-bangsa justru akan datang memegang kuat-kuat punca jubah umat-Nya, ingin ikut serta. Allah merangkul, bukan membakar.
Kepada siapa pekan ini kita diam-diam ingin menurunkan api? Mungkin Yesus sedang menegor kita dengan lembut, lalu mengajak: mari pergi ke desa yang lain.
Tuhan, padamkanlah api dendam di hatiku, dan ajarilah aku berjalan terus bersama-Mu. Amin.