Jumat, 3 September 2027
Anggur Baru, Kantong Baru
Di banyak dapur ada lemari khusus berisi toples dan botol bekas. Sayang dibuang, katanya, siapa tahu berguna. Padahal sebagian sudah retak dan tutupnya entah ke mana. Ada isi baru yang memang tidak bisa dititipkan pada wadah lama.
Yesus memakai gambaran serupa. Anggur baru masih bekerja, masih mengembang. Kantong kulit yang tua sudah kaku, tidak bisa ikut meregang. Dipaksakan, dua-duanya rusak: anggur tumpah, kantong hancur.
Rahmat Allah itu seperti anggur baru. Ia hidup dan bergerak. Yang sering menjadi soal bukan rahmatnya, melainkan wadah kita: kebiasaan yang kaku, rasa paling benar, cara lama yang kita pertahankan bukan karena baik melainkan karena nyaman. Beranikah kita diregangkan?
Hari ini Gereja mengenang Santo Gregorius Agung. Ia paus besar, tetapi menyebut dirinya servus servorum Dei, hamba para hamba Allah. Ia berani menata ulang cara Gereja berdoa dan melayani pada zamannya. Wadah lama ia perbarui, supaya anggur Injil tidak tumpah sia-sia. Kerendahan hati membuatnya lentur, dan kelenturan itu membuahkan pembaruan.
Kantong tua mana dalam diri kita yang hari ini minta diganti: kebiasaan, cara menilai orang, atau cara kita berdoa?
Tuhan, jadikanlah hatiku kantong yang baru, lentur bagi rahmat-Mu yang selalu bergerak. Amin.