‹ Semua renungan

Sabtu, 4 September 2027

Aturan dan Nyawa

Lampu merah dibuat agar orang tidak saling menabrak. Tetapi semua orang tahu, ambulans yang membawa orang sekarat boleh menerobosnya. Bukan karena aturan tidak penting, melainkan karena nyawa lebih penting dari aturan. Pembuat aturan sendiri mengakuinya.

Di ladang gandum, murid-murid yang lapar memetik bulir dan memakannya. Bagi orang Farisi itu pelanggaran: memetik berarti menuai, dan menuai dilarang pada hari Sabat. Yesus menjawab dengan mengingatkan Daud yang memakan roti sajian ketika lapar. Lalu kalimat penutup itu: "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

Sabat diberikan Allah supaya manusia hidup, beristirahat, dan bersyukur. Ketika aturan Sabat justru membiarkan orang lapar, aturan itu sudah tercabut dari akarnya. Hurufnya tinggal, rohnya hilang. Hukum Gereja sendiri menutup kitabnya dengan asas tua: keselamatan jiwa adalah hukum yang tertinggi.

Kita pun punya sabat-sabat kecil: tata tertib rumah, kebiasaan doa, jadwal pelayanan. Semua baik. Tetapi pernahkah kita memakai aturan untuk menghakimi orang, bukan untuk menghidupkan orang?

Aturan yang sehat itu seperti pagar tanaman. Ia menjaga yang hidup, bukan menggantikannya. Begitu pagar dianggap lebih penting dari tanamannya, kebun berubah menjadi penjara.

Tuhan, ajarilah aku menaati aturan dengan hati yang tetap melihat manusia. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →