Minggu, 5 September 2027
Efata
Tubuh kita menyimpan sebuah keanehan kecil. Mata punya kelopak, mulut punya bibir, tetapi telinga tidak punya penutup. Ia terbuka siang malam, bahkan ketika kita tidur. Seolah-olah Sang Pencipta merancang manusia untuk selalu siap mendengar.
Namun kita pandai membuat penutup sendiri. Kita memilih suara mana yang layak masuk dan suara mana yang kita anggap angin lalu. Yakobus memotret gejala itu dalam bacaan kedua: jemaat yang ramah kepada tamu bercincin emas, tetapi menyuruh si miskin duduk di lantai. Telinga mereka terbuka, tetapi hanya untuk yang berpakaian indah.
Minggu lalu Yesus menegur orang Farisi soal kenajisan yang keluar dari dalam hati. Hari ini, masih dalam Injil Markus, Ia berjalan jauh ke Dekapolis, daerah orang kafir. Orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan gagap. Yesus memisahkan dia dari keramaian, menyentuh telinganya, meraba lidahnya, menengadah ke langit, menarik napas, lalu berkata: "Efata!" Terbukalah!
Markus menyimpan kata itu dalam bunyi aslinya, bahasa Aram dari mulut Yesus sendiri. Seperti rekaman suara yang tidak tega ia terjemahkan. Dan seketika telinga itu terbuka, ikatan lidah itu terlepas, orang itu berkata-kata dengan baik.
Yesaya sudah menubuatkannya berabad-abad sebelumnya: bila Allah datang, mata orang buta dicelikkan dan telinga orang tuli dibuka. Maka orang banyak tepat sekali ketika berseru takjub: "Ia menjadikan segala-galanya baik." Itu bahasa kitab Kejadian. Di hadapan mereka, penciptaan sedang diperbaiki. Allah yang dahulu memandang segala ciptaan dan menyebutnya baik, kini menyentuh satu per satu yang rusak dan menjadikannya baik kembali.
Gereja tidak pernah melupakan kata itu. Dalam upacara baptis ada ritus kecil bernama Efata: telinga dan mulut disentuh sambil didoakan, supaya yang dibaptis mampu mendengarkan firman dan mewartakannya. Artinya, setiap orang beriman pernah menerima Efata-nya sendiri.
Pertanyaannya, masihkah terbuka? Ketulian zaman ini jarang berupa rusaknya gendang telinga. Lebih sering berupa hati yang menyaring: mendengar pujian tetapi tuli terhadap teguran, mendengar yang berkuasa tetapi tuli terhadap yang melarat. Dan seperti orang gagap itu, lidah kita pun sering terikat justru ketika harus membela yang lemah.
Suara siapa yang selama ini sengaja kita redam? Mungkin di sanalah Yesus ingin menyentuh telinga kita pekan ini.
Tuhan Yesus, sentuhlah telingaku dan berkatalah sekali lagi: Efata. Bukalah aku bagi firman-Mu dan bagi jeritan sesamaku, lepaskanlah lidahku untuk mewartakan kebaikan-Mu. Amin.