Senin, 6 September 2027
Berdirilah di Tengah
Bagi seorang pekerja, tangan adalah periuk nasi. Tukang kayu, penjahit, petani, semua hidup dari tangannya. Maka orang yang mati tangan kanannya di rumah ibadat itu bukan hanya sakit. Ia kehilangan nafkah dan harga diri.
Hari itu ada dua macam mata yang memandangnya. Ahli Taurat dan orang Farisi mengamat-amati, bukan untuk menolong, melainkan untuk mencari kesalahan Yesus. Orang sakit dijadikan umpan perkara. Sedangkan mata Yesus melihat penderitaan yang harus diakhiri, hari itu juga, sekalipun hari Sabat.
Yesus tidak menyembuhkannya diam-diam. "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" Orang yang terbiasa menyembunyikan tangannya kini dipanggil ke pusat perhatian. Lalu muncul pertanyaan yang tidak sanggup dijawab para pengamat: manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa atau membinasakannya?
Berbuat baik ternyata tidak mengenal hari libur. Menunda kebaikan yang bisa dilakukan hari ini sudah setengah kejahatan.
Ironisnya, mukjizat itu tidak melunakkan para pengamat. Amarah mereka justru meluap, lalu mereka berunding melawan Yesus. Kebaikan memang bisa menyakiti hati yang keras.
Kita sendiri memandang orang lain dengan mata yang mana? Mata pengamat yang menunggu orang tergelincir, atau mata Yesus yang mencari siapa yang bisa ditolong?
Tuhan, berilah aku mata-Mu, yang memandang manusia untuk menyelamatkan, bukan untuk mempersalahkan. Amin.