‹ Semua renungan

Minggu, 29 Agustus 2027

Bersih Sampai ke Dalam

Sejak pandemi, kita menjadi bangsa yang rajin mencuci tangan. Ada sabun di depan warung, ada cairan pembersih di dalam tas. Kebersihan luar kini nyaris menjadi refleks. Dan itu baik. Tetapi bacaan-bacaan hari ini mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: yang di dalam, siapa yang membersihkan? Belum ada sabun yang dijual untuk hati.

Orang Farisi menegur murid-murid Yesus yang makan tanpa membasuh tangan menurut adat. Bagi mereka, pembasuhan adalah pagar kesalehan. Yesus menjawab dengan mengutip Yesaya: bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Lalu Ia mengucapkan kalimat yang membalik cara pandang: bukan yang masuk dari luar yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari dalam. Dari hati, kata-Nya, timbul pikiran jahat, keserakahan, kelicikan, iri hati, kesombongan.

Daftar itu terasa akrab, bukan? Tidak satu pun bisa dibersihkan dengan sabun. Iri hati tidak luntur oleh air; kesombongan tidak hilang digosok.

Yesus tidak sedang meremehkan aturan. Bacaan pertama justru memuji hukum Taurat sebagai kebijaksanaan Israel yang membuat bangsa-bangsa kagum. Masalahnya bukan aturannya, melainkan putusnya hubungan antara aturan dan hati. Ritual yang berjalan sendiri, tanpa kasih yang menggerakkannya, hanyalah cuci tangan yang tidak menyentuh apa-apa.

Yakobus dalam bacaan kedua memberi ukuran yang bisa dipegang: hendaklah kamu menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar. Lalu ia mendefinisikan ibadah yang murni dengan cara yang mengejutkan: mengunjungi yatim piatu dan janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga diri tidak dicemarkan dunia. Ibadah sejati punya dua arah sekaligus: keluar kepada yang menderita, ke dalam menjaga hati.

Maka baiklah kita periksa diri dengan jujur. Rajin ke gereja itu indah; apakah kasihnya terbawa pulang? Fasih berdoa itu baik; apakah lidah yang sama ramah kepada orang serumah? Penampilan rohani bisa dilatih, tetapi Allah memandang hati. Ia tidak terkecoh oleh labur putih kita.

Kabar baiknya, kita tidak dibiarkan membersihkan hati sendirian. Yakobus menyebut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Firman itu seperti air yang bekerja dari dalam, asal kita memberinya waktu: dibaca, direnungkan, dilakukan. Pelan-pelan ia melarutkan yang keras dan membilas yang keruh.

Pekan ini, mari pilih satu isi hati yang paling sering keluar mencemari, lalu bawa sungguh-sungguh ke hadapan Tuhan. Sebutkan namanya dengan jujur dalam doa, dan mintalah Ia membasuhnya.

Tuhan, ciptakanlah hati yang bersih dalam diriku, dan jadikanlah aku pelaku firman-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →