‹ Semua renungan

Senin, 30 Agustus 2027

Dukacita yang Berpintu

Di rumah duka, kalimat yang paling sering kita ucapkan adalah “turut berdukacita”. Kalimat itu benar, tetapi Paulus menambahkan sesuatu yang mengubah seluruh suasananya. Kepada jemaat Tesalonika yang kehilangan orang-orang terkasih, ia menulis: janganlah berdukacita seperti orang-orang yang tidak mempunyai pengharapan.

Perhatikan: Paulus tidak melarang berduka. Air mata tidak dilarang; Yesus sendiri menangis di makam Lazarus. Yang dibedakan adalah dukacita yang buntu dan dukacita yang berpintu. Bagi orang beriman, kematian bukan tembok, melainkan pintu. Jika kita percaya Yesus telah mati dan bangkit, maka mereka yang meninggal dalam Dia akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. Perpisahan ini panjang, tetapi tidak abadi.

Maka Paulus menutup suratnya dengan tugas yang sangat manusiawi: hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini. Pengharapan bukan untuk disimpan sendiri; ia dibagikan di ruang-ruang duka, lewat kehadiran, doa, dan kata yang menguatkan.

Dalam Injil, Yesus di Nazaret memberitakan tahun rahmat Tuhan bagi yang miskin, tawanan, dan tertindas. Ia ditolak di kampung-Nya sendiri, tetapi kabar baik itu terus berjalan, sampai ke ruang-ruang duka kita hari ini.

Siapa yang sedang berduka di sekitar kita dan menanti dihibur?

Tuhan, Engkaulah kebangkitan dan hidup; jadikanlah aku pembawa penghiburan bagi yang berduka. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →