Minggu, 25 Juli 2027
Gerabah
Di dapur rumah lama biasanya ada kendi tanah liat. Retak halus di bibirnya, warnanya kusam, tetapi airnya selalu paling sejuk. Tidak ada orang memajang kendi di lemari kaca. Gerabah dibuat untuk dipakai, bukan dipamerkan. Dari tanah ia dibentuk, dibakar, dipakai bertahun-tahun, sampai suatu hari pecah dan kembali ke tanah.
Paulus memakai gambaran itu untuk hidupnya: harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Ia tidak menyangkal harta di dalamnya, ia hanya jujur soal wadahnya. Ditindas namun tidak terjepit, habis akal namun tidak putus asa. Retak boleh, pecah tidak. Justru lewat retakan itulah terang isinya kelihatan.
Tanggal dua puluh lima Juli biasanya Gereja memestakan Santo Yakobus; tahun ini pestanya tergeser oleh hari Minggu, tetapi Injil yang kita dengar tetap berkisah tentang dia. Dan kisahnya sama sekali tidak gagah. Ibunya datang kepada Yesus meminta jatah: dua kursi, kanan dan kiri, untuk kedua anaknya. Naluri yang sangat manusiawi. Setiap orang tua ingin anaknya duduk di tempat terhormat, dan setiap kita ingin naik.
Yesus tidak memarahi. Ia mengajukan pertanyaan: dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum? Mereka menjawab ringan, kami dapat, mungkin sambil membayangkan cawan kehormatan. Padahal yang dimaksud cawan penderitaan. Lalu Yesus membalik seluruh anak tangga dunia: barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya.
Dua bacaan ini bertemu di satu titik: kemuliaan menurut Allah tidak berbentuk kursi, melainkan cawan. Bukan porselen di lemari kaca, melainkan gerabah yang tiap hari dipakai menuang bagi orang lain. Yakobus akhirnya memahami itu. Ia meminum cawan itu sungguh-sungguh: menjadi rasul pertama yang mati dibunuh karena imannya.
Kita hidup di tengah lomba memperebutkan kursi: jabatan, panggung, pengakuan. Injil hari ini tidak melarang kita menjadi besar. Ia hanya menukar rutenya. Mau besar? Silakan. Ambillah kain lap, cucilah piring, layani yang paling belakang. Dan bila hidup kita terasa retak di sana-sini, jangan berkecil hati. Allah justru memilih bejana retak, supaya jelas terangnya milik siapa. Kursi bisa direbut orang lain; cawan yang sudah diminum tidak.
Pekan ini, satu latihan kecil: sekali sehari, pilihlah melayani tanpa ketahuan, tanpa unggahan, tanpa laporan.
Tuhan Yesus, aku ini gerabah biasa. Isilah aku dengan harta-Mu, dan pakailah aku sampai tandas untuk melayani. Amin.