‹ Semua renungan

Selasa, 29 Juni 2027

Batu Retak dan Rantai Gugur

Coba bayangkan dua orang ini dipertemukan dalam satu tim. Yang satu nelayan, lugas, cepat bicara, pernah gagal besar. Yang lain cendekiawan, keras kepala, bekas penganiaya kelompok yang kini dibelanya. Menurut hitungan manusia, tim ini bubar dalam sebulan. Menurut hitungan Allah, di atas dua orang inilah Gereja berdiri.

Hari ini kita merayakan Santo Petrus dan Paulus. Gereja sengaja menyatukan pesta mereka, seolah berkata: jangan pilih salah satu, keduanya satu paket. Gereja memang berjalan dengan dua kaki: pengakuan iman dan pewartaan tanpa lelah.

Petrus adalah batu karang yang pernah retak. Di Kaisarea Filipi ia mengucapkan pengakuan yang menjadi fondasi: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup! Dan Yesus menjawab: engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku. Namun batu karang yang sama, beberapa waktu kemudian, menyangkal Gurunya tiga kali di depan seorang pelayan. Gereja tidak didirikan di atas manusia yang tak pernah jatuh, melainkan di atas manusia yang diampuni dan bangkit lagi.

Bacaan pertama memperlihatkan Petrus yang sudah matang: dipenjara Herodes, diikat dua rantai, dijaga empat regu prajurit. Sementara itu jemaat dengan tekun mendoakannya. Malam itu malaikat datang, rantai gugur, pintu besi terbuka sendiri. Kuasa dunia memasang rantai; doa Gereja dan tangan Allah melepaskannya.

Paulus lain lagi jalannya. Ia tidak pernah ikut Yesus berkeliling Galilea. Ia justru mengejar-ngejar para murid, sampai Kristus sendiri menghentikannya di jalan ke Damsyik. Dalam bacaan kedua kita mendengar surat tuanya, ditulis menjelang kematiannya: aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, aku telah memelihara iman. Kalimat seorang pelari yang tahu bahwa mahkota sudah menunggu di garis finis.

Dua orang, dua watak, dua jalan, satu Tuhan. Keduanya sama-sama pernah salah besar: yang satu menyangkal, yang lain menganiaya. Keduanya sama-sama dimenangkan oleh belas kasih. Keduanya akhirnya sama-sama menumpahkan darah di Roma.

Barangkali inilah penghiburan terbesar pesta hari ini: Allah tidak mencari orang sempurna untuk pekerjaan besar. Ia mencari orang yang, sesudah jatuh, mau menjawab lagi pertanyaan yang sama: tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?

Pertanyaan itu kini tiba di depan kita. Bukan kata orang. Bukan kata buku. Apa kata kita?

Tuhan Yesus, Engkau membangun Gereja-Mu dari batu yang retak dan penganiaya yang bertobat. Pakailah juga aku, dengan segala riwayatku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →