Senin, 28 Juni 2027
Menawar di Hadapan Tuhan
Tawar-menawar adalah seni tua di pasar kita. Pembeli menawar rendah, penjual pasang tinggi, keduanya bertemu di tengah. Yang membuat tawar-menawar hidup adalah keberanian untuk terus bertanya: boleh kurang?
Bacaan pertama hari ini merekam tawar-menawar paling berani dalam Kitab Suci. Yang ditawar bukan harga kain, melainkan nasib sebuah kota. Abraham berdiri di hadapan Tuhan dan mulai menawar nyawa Sodom: sekiranya ada lima puluh orang benar? Empat puluh lima? Empat puluh? Ia terus turun sampai sepuluh, dengan sopan tetapi gigih, sambil mengakui: aku ini debu dan abu.
Yang mengharukan, Abraham tidak menawar untuk dirinya. Ia menawar untuk kota yang bukan kotanya, bahkan kota yang jahat. Inilah doa syafaat: berdiri di hadapan Allah membela orang yang mungkin tidak pernah tahu sedang dibela. Dan perhatikan, Allah tidak sekali pun tersinggung. Setiap tawaran dikabulkan. Seolah Allah memang menunggu ada yang berani menawar bagi orang berdosa.
Santo Ireneus, yang kita kenang hari ini, memanggul nama yang cocok: dari kata Yunani eirene, damai. Uskup Lyon ini berdiri di tengah pertikaian Gereja abad kedua sebagai penengah dan pembela iman.
Kota mana, keluarga mana, orang mana, yang menunggu kita tawarkan belas kasihan Allah baginya?
Tuhan, jadikan doaku seperti doa Abraham: berani menawar rahmat bagi mereka yang tak sanggup berdoa sendiri. Amin.