‹ Semua renungan

Minggu, 27 Juni 2027

Talita Kum

Ruang tunggu rumah sakit adalah tempat paling jujur di dunia. Di sana pangkat tidak berlaku. Direktur dan buruh duduk di deretan kursi yang sama, menunggu nama dipanggil, menggenggam harapan yang sama tipisnya.

Injil panjang hari ini seperti ruang tunggu itu. Dua orang datang kepada Yesus dari dua ujung masyarakat. Yairus, kepala rumah ibadat, orang terhormat, tersungkur memohon bagi anaknya yang sekarat. Dan seorang perempuan tanpa nama, dua belas tahun menderita pendarahan, sudah habis hartanya untuk berbagai tabib, sudah habis pula statusnya, sebab penyakit itu membuatnya najis dan tersingkir. Yang satu datang dari depan dengan permohonan. Yang lain menyelinap dari belakang dengan satu kalimat nekat: asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.

Dua belas tahun perempuan itu sakit. Dua belas tahun pula umur anak Yairus. Yang satu kehilangan hidupnya pelan-pelan, yang lain kehilangan hidup mendadak. Dan Yesus punya waktu untuk keduanya.

Perhatikan bagaimana Ia memperlakukan perempuan itu. Kuasa sudah keluar, kesembuhan sudah terjadi; Yesus bisa saja berjalan terus. Tetapi Ia berhenti dan mencari: siapa yang menjamah jubah-Ku? Bukan untuk memarahi. Ia ingin perempuan yang terbiasa bersembunyi itu berdiri, bercerita, dan mendengar sapaan yang barangkali sudah belasan tahun tak ia dengar: hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Yesus tidak puas menyembuhkan badan tanpa memulihkan martabat.

Sementara itu kabar buruk datang: anak Yairus sudah mati, tak usah merepotkan Guru. Jawaban Yesus pendek dan menjadi pegangan semua orang beriman di ruang tunggu mana pun: jangan takut, percaya saja. Di kamar anak itu Ia memegang tangannya. Talita kum. Hai anak, bangunlah. Dan anak itu bangkit berdiri, lalu Yesus menyuruh memberinya makan. Detail yang manis: mukjizat besar ditutup dengan urusan sarapan.

Bacaan pertama memberi kita alasannya: maut tidak dibuat oleh Allah; Ia menciptakan manusia untuk kebakaan. Kematian bukan kata terakhir dalam kamus Allah. Karena itu Yesus berani menyebut kematian anak itu tidur.

Kepada yang sedang menunggu di ruang tunggu kehidupan, entah menunggu hasil laboratorium, menunggu anak yang belum pulang, menunggu pemulihan yang tak kunjung datang: mendekatlah. Dari depan atau dari belakang, dengan doa tersusun atau sekadar sentuhan nekat pada ujung jubah-Nya. Ia berhenti untuk orang seperti kita.

Tuhan Yesus, di ruang tungguku yang panjang, peganglah tanganku dan ucapkanlah: jangan takut, percaya saja. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →