‹ Semua renungan

Sabtu, 26 Juni 2027

Tamu di Siang Terik

Di kampung-kampung kita, tamu adalah raja kecil. Baru duduk sebentar, sudah dihidangkan teh. Tuan rumah rela masak besar, sementara ia sendiri makan seadanya di dapur. Ada keyakinan tua: tamu membawa berkat.

Abraham mempraktikkannya di siang paling terik. Kemarin kita mendengar Allah menjanjikan Ishak; hari ini janji itu datang bertamu. Tiga orang berdiri di depan kemah, dan Abraham yang sudah tua berlari menyongsong, sujud, lalu sibuk luar biasa: ambil air, remas tepung, sembelih anak lembu. Ia berdiri melayani sementara tamunya makan. Ia tidak tahu bahwa yang ia jamu adalah Tuhan sendiri. Keramahannya berbuah kabar: tahun depan Sara akan mempunyai anak. Sara tertawa di balik pintu. Jawab Tuhan tenang saja: adakah sesuatu yang mustahil untuk Tuhan?

Dalam Injil arahnya berbalik. Bukan manusia menjamu Allah, melainkan perwira Kapernaum yang merasa rumahnya tak layak dimasuki-Nya. Tuan, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Kalimat itu kita ulangi di setiap Misa, sesaat sebelum Tamu Agung itu masuk ke dalam diri kita.

Seberapa siap rumah hati kita menerima tamu, entah manusia, entah Tuhan yang menyamar di baliknya?

Tuhan, jadikan hatiku kemah Abraham: sigap menyambut, rela repot, dan percaya tidak ada yang mustahil bagi-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →