Rabu, 30 Juni 2027
Sumur yang Sudah Ada
Pada puncak kemarau, orang desa tahu artinya air. Sumur mulai surut, timba turun makin dalam. Dan yang paling menakutkan bukan haus hari ini, melainkan pikiran: bagaimana besok?
Hagar mengalami titik itu di padang gurun Bersyeba. Diusir dari rumah Abraham, berbekal roti dan sekirbat air. Ketika air habis, ia meletakkan anaknya di bawah semak, lalu duduk menjauh sepemanah jauhnya. Tidak tahan aku melihat anak itu mati. Ia menangis dengan suara nyaring. Ibu mana yang sanggup?
Lalu datang ayat yang layak digarisbawahi: Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur. Perhatikan baik-baik. Allah tidak menciptakan sumur baru saat itu. Sumur itu sudah ada di sana. Yang berubah bukan gurunnya, melainkan mata Hagar. Keputusasaan memang begitu: ia membutakan kita terhadap pertolongan yang sebenarnya sejengkal dari tempat kita menangis.
Berapa banyak sumur di sekitar kita yang belum terlihat? Sahabat yang sebenarnya siap membantu. Pintu yang sebenarnya belum tertutup. Rahmat yang sudah lama disediakan.
Injil menunjukkan wajah Allah yang sama: Yesus menyeberang ke Gadara, daerah asing, hanya untuk membebaskan dua orang yang dibuang masyarakatnya.
Tuhan, di tengah kemarau hidupku, bukalah mataku agar melihat sumur yang telah Kausediakan. Amin.