‹ Semua renungan

Kamis, 24 Juni 2027

Nama Titipan Langit

Memberi nama anak tidak pernah sembarangan. Orang tua bisa berminggu-minggu menimbang: nama kakek yang mesti diteruskan, nama santo pelindung, doa yang mau dititipkan pada nama itu. Nama adalah harapan yang dipanggil setiap hari.

Hari ini Gereja merayakan sebuah kelahiran dan sebuah nama. Elisabet yang tua melahirkan anak laki-laki. Para tetangga sudah sepakat: namai saja Zakharia, menurut bapanya. Wajar. Nama diwariskan menurut garis keluarga. Tetapi ibunya menolak: jangan, ia harus dinamai Yohanes. Semua heran; tidak ada sanak saudara bernama itu. Lalu Zakharia yang bisu meminta batu tulis dan menulis: namanya adalah Yohanes. Seketika mulutnya terbuka dan ia memuji Allah.

Mengapa nama itu penting sampai diributkan? Yohanes berasal dari bahasa Ibrani, Yohanan, artinya Tuhan bermurah hati. Anak ini tidak boleh memakai nama warisan, sebab hidupnya memang bukan kelanjutan garis keluarga. Ia proyek baru belas kasih Allah. Namanya sendiri sudah menjadi kotbah pertamanya.

Bacaan pertama memperdalam itu. Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan, telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku. Sebelum Yohanes bisa berkata-kata, Allah sudah selesai menuliskan panggilannya. Begitu pula kita. Tidak ada manusia yang lahir sebagai kebetulan. Setiap orang lahir sebagai kalimat yang ingin diucapkan Allah kepada zamannya.

Yang mengagumkan dari Yohanes justru caranya memahami diri. Ia menjadi besar. Seluruh Yudea kelak datang kepadanya, mendengarkan dia, dibaptis olehnya. Tetapi ketika popularitasnya memuncak, ia berkata, seperti dikutip Paulus dalam bacaan kedua: aku bukanlah Dia yang kamu sangka; membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak. Yohanes tahu ia anak panah, bukan sasarannya. Jari yang menunjuk, bukan yang ditunjuk. Kebesarannya justru terletak pada kerelaannya menjadi kecil di hadapan Dia yang ia wartakan.

Para tetangga dulu bertanya sambil merenung: menjadi apakah anak ini nanti? Pertanyaan itu layak kita ulang di depan setiap anak yang kita timang, setiap murid yang kita ajar, bahkan di depan cermin kita sendiri. Menjadi apakah aku ini nanti dalam rencana Allah?

Nama kita mungkin tidak diumumkan malaikat. Tetapi panggilan kita sama tuanya: sudah disebut sejak dari kandungan. Tinggal satu pekerjaan seumur hidup: menghidupi nama itu sampai orang lain, lewat kita, melihat Tuhan yang bermurah hati.

Tuhan, Engkau mengenal namaku sebelum aku lahir. Seperti Yohanes, jadikanlah hidupku telunjuk yang mengarah kepada-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →