Rabu, 23 Juni 2027
Menghitung Bintang
Saat listrik padam di malam cerah, ada hiburan yang tidak butuh daya: langit. Di desa yang gelap, bintang tampak berhamburan tak terhitung. Anak-anak mencoba menghitungnya dan selalu menyerah.
Malam seperti itulah yang dipakai Allah untuk mengajar Abram. Abram sedang gelap hatinya: tidak punya anak, dan ahli warisnya bakal seorang hamba. Lalu Tuhan membawanya keluar. Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang. Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu. Kepada orang yang tak punya satu anak pun, Allah menjanjikan langit penuh.
Lalu datang ayat yang menjadi salah satu kalimat terpenting seluruh Kitab Suci: percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Abram belum melakukan apa-apa. Ia hanya percaya. Dan itu dihitung.
Kemarin Yesus berbicara tentang pintu yang sesak; hari ini tentang pohon dan buahnya: dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Kedengarannya bertolak belakang dengan kisah Abram, padahal berurutan. Iman adalah akarnya, buah adalah buktinya. Pohon yang sungguh berakar pada janji Allah pasti kelihatan pada buahnya.
Sedang merasa tak punya apa-apa untuk ditunjukkan kepada Tuhan? Tunjukkan saja percaya. Itu pun dihitung-Nya.
Tuhan, dalam malamku yang gelap, ajaklah aku keluar melihat bintang-bintang janji-Mu. Amin.