‹ Semua renungan

Selasa, 22 Juni 2027

Seni Mengalah

Banyak keluarga rukun puluhan tahun, lalu retak oleh satu hal: warisan. Tanah sepetak bisa memutus silaturahmi. Saudara kandung bisa saling tidak menyapa gara-gara batas pekarangan.

Abram dan Lot nyaris masuk cerita itu. Kemarin kita mendengar Abram berangkat atas panggilan Tuhan; hari ini ternak mereka terlalu banyak dan para gembala mulai berkelahi. Lalu Abram, yang lebih tua dan lebih berhak, mengucapkan kalimat yang mengherankan: janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, sebab kita ini kerabat. Pilihlah dahulu. Jika engkau ke kiri, aku ke kanan.

Lot memilih dengan mata: seluruh Lembah Yordan yang banyak airnya, subur seperti taman Tuhan. Abram kebagian sisa, tanah Kanaan yang biasa saja. Kalah? Justru setelah Lot pergi, Tuhan berfirman kepada Abram: pandanglah ke empat penjuru; seluruh negeri yang kaulihat akan Kuberikan kepadamu. Yang mengalah tidak kehilangan. Yang mengalah memberi ruang bagi Allah untuk membalas dengan takaran-Nya.

Yesus dalam Injil menyebutnya jalan sempit. Sempit karena ego harus ditinggal di depan pintu. Segala yang kamu kehendaki orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga kepada mereka.

Dalam perkara apa kita sedang diminta mengalah duluan?

Tuhan, saat aku sibuk memilih bagian yang subur, ingatkan aku bahwa berkat-Mu tinggal bersama yang berani mengalah. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →