Senin, 21 Juni 2027
Berangkat Tanpa Peta
Setiap tahun, jutaan anak muda negeri ini berangkat merantau. Berbekal satu tas, satu alamat, dan restu orang tua. Yang membuat mereka berani bukan kepastian, melainkan harapan.
Abram merantau dengan bekal lebih tipis lagi. Pergilah dari negerimu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Perhatikan: bukan yang sudah Kutunjukkan, melainkan yang akan. Alamatnya menyusul. Peta diberikan sambil berjalan. Dan Abram berangkat pada umur tujuh puluh lima tahun, usia ketika orang lain sudah menetap dan menghitung warisan. Kitab Suci mencatatnya sederhana: lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan.
Iman memang bukan soal melihat seluruh jalan, melainkan soal berani pada langkah pertama. Setiap kali tiba di tempat baru, Abram mendirikan mezbah. Ia belum memiliki tanah itu, tetapi ia sudah bersyukur di atasnya.
Santo Aloisius Gonzaga, yang kita kenang hari ini, mengulang keberangkatan itu dengan caranya. Pewaris keluarga bangsawan Italia ini melepaskan haknya, masuk Serikat Yesus, dan wafat pada usia dua puluh tiga tahun karena merawat korban wabah. Muda, tetapi sudah selesai dengan dunia.
Panggilan apa yang sedang menunggu keberangkatan kita, dan terus kita tunda karena menunggu peta lengkap?
Tuhan, aku ingin melihat dulu baru percaya. Balikkanlah: buatlah aku percaya, lalu berangkat. Amin.