‹ Semua renungan

Minggu, 20 Juni 2027

Tidur di Buritan

Siapa pernah menyeberang laut dengan kapal kecil tahu rasanya. Begitu ombak meninggi, semua penumpang diam. Yang tadinya bercanda mulai memegang tepi kursi. Yang tak pernah berdoa mendadak fasih berdoa. Laut punya cara sendiri menelanjangi hati manusia.

Minggu lalu kita mendengar Yesus mengajar dari perahu tentang benih dan biji sesawi. Hari ini, dari perahu yang sama, pelajaran berikutnya dimulai: marilah kita bertolak ke seberang. Lalu taufan mengamuk. Ombak menyembur masuk. Dan Yesus? Tidur di buritan, di sebuah tilam.

Detail itu mengusik. Bagaimana mungkin ada yang bisa tidur dalam badai? Murid-murid membangunkan-Nya dengan kalimat yang sangat manusiawi, yang diam-diam sering juga kita ucapkan: Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?

Yesus bangun. Tidak panik, tidak sibuk. Ia menghardik angin dan berkata kepada danau: diam, tenanglah. Lalu teduh sekali. Pertanyaan-Nya kemudian menusuk lebih dalam daripada badai: mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?

Bacaan pertama memberi latar megahnya. Dari dalam badai Allah menjawab Ayub: siapa membendung laut dengan pintu ketika ia membual keluar dari dalam rahim? Sampai di sini boleh engkau datang, jangan lewat! Laut, yang bagi orang zaman itu lambang kekacauan paling liar, ternyata punya pagar yang dipasang Allah. Kekacauan boleh mengamuk, tetapi ia tidak pernah tanpa batas.

Bukankah itu yang paling kita butuhkan saat badai datang? Bukan janji bahwa hidup selalu teduh, melainkan kepastian bahwa kekacauan ini ada tepinya, ada palang pintunya, ada Tuannya.

Murid-murid akhirnya bertanya dengan gentar: siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya? Itu pertanyaan terpenting dalam hidup beriman. Dan Paulus, dalam bacaan kedua, memberi jawaban sekaligus akibatnya: Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri. Siapa ada di dalam Dia adalah ciptaan baru.

Badai kita hari ini mungkin bukan air. Tagihan. Diagnosis dokter. Rumah tangga yang retak. Masa depan anak. Dan Yesus seolah tidur. Tetapi perhatikanlah: Ia tidur di perahu kita, bukan di pantai. Ia ikut basah. Ia ada di dalam. Kehadiran-Nya tidak selalu meniadakan badai, tetapi selalu menemani penyeberangan.

Badai mana yang sedang membuat kita bertanya, Tuhan tidak peduli?

Tuhan Yesus, Engkau ada di perahuku. Saat aku menyangka Engkau tidur, ingatkan aku bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan buritan hidupku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →