Rabu, 5 Mei 2027
Mezbah Tanpa Nama
Kemarin kita mendengar kepala penjara Filipi bertanya, "Apakah yang harus aku perbuat supaya aku selamat?" Hari ini pertanyaan serupa mengambang di kota Atena, hanya saja tidak terucap. Ia terpahat diam-diam pada sebuah mezbah bertuliskan: Kepada Allah yang tidak dikenal.
Menarik cara Paulus membaca kota itu. Ia berjalan-jalan, melihat-lihat, memperhatikan. Ia tidak memulai dengan mencela berhala mereka. Ia memulai dari kerinduan yang tersembunyi di baliknya: "Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu." Kerinduan manusia dijadikannya pintu masuk Injil.
Bukankah zaman kita penuh mezbah tanpa nama? Orang memburu ketenangan ke mana-mana, mencari makna lewat seribu cara. Semuanya tanda dari kerinduan yang sama: hati yang mencari Dia, yang sebenarnya tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada.
Yesus dalam Injil menjanjikan Roh Kebenaran yang akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Pelan-pelan. Sebab ada hal yang belum dapat kita tanggung sekarang. Iman memang bukan paket kilat. Ia perjalanan yang dituntun.
Adakah orang di sekitar kita yang sedang menyembah tanpa mengenal? Mungkin tugas kita bukan mendebatnya, melainkan menemani kerinduannya menemukan Nama itu.
Roh Kebenaran, tuntunlah para pencari menemukan Dia yang tidak jauh dari hati mereka. Amin.