‹ Semua renungan

Kamis, 6 Mei 2027

Perpisahan yang Bukan Kepergian

Di terminal dan pelabuhan, kita mengenal dua macam air mata. Air mata perpisahan yang berarti kehilangan, dan air mata pelepasan yang diam-diam menyimpan bangga. Orang tua yang melepas anaknya merantau ikut menangis, tetapi tangis itu bukan tangis kubur. Anak itu pergi justru supaya sesuatu yang lebih besar bisa terjadi.

Hari ini kita merayakan Kenaikan Tuhan. Yesus terangkat ke surga, dan para murid menatap langit. Kalau kita jujur, perayaan ini terasa seperti perpisahan. Injil hari ini merekam kebingungan mereka: "Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi, dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku." Para murid saling berbisik, apa maksudnya? Kita pun mungkin ikut bingung. Pergi kok sebentar. Hilang kok akan tampak lagi. Tetapi justru kalimat yang membingungkan itu kunci seluruh perayaan hari ini.

Minggu lalu kita mendengar Yesus berbicara tentang sukacita yang penuh. Hari ini Ia berterus terang tentang jalannya: "Kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita." Perhatikan kata-katanya. Dukacita itu tidak diganti, melainkan berubah. Seperti air menjadi anggur di Kana. Bahan yang sama, mutu yang baru.

Kenaikan bukan kepergian Yesus dari dunia, melainkan perubahan cara hadir-Nya. Dulu Ia hadir di satu tempat: kalau sedang di Kapernaum, ya tidak di Yerusalem. Kini Ia duduk di sisi Bapa, dan justru karena itu bisa hadir di semua tempat: dalam Ekaristi, dalam sabda, dalam dua tiga orang yang berkumpul dalam nama-Nya. Mata kita yang perlu belajar melihat dengan cara baru.

Bacaan pertama menunjukkan buah dari cara hadir yang baru itu. Paulus tiba di Korintus, kota pelabuhan yang riuh. Ia tidak membawa Yesus dalam tandu. Ia membawa-Nya dalam dirinya, sambil bekerja sebagai tukang kemah bersama Akwila dan Priskila. Injil diberitakan di antara jahitan kain kemah dan tawar-menawar pasar, dan banyak orang Korintus menjadi percaya lalu dibaptis. Kristus yang naik ke surga ternyata turun ke bengkel kerja.

Maka Kenaikan bukan alasan untuk terus menatap langit. Ia perintah untuk menatap bumi dengan mata langit. Di rumah, di tempat kerja, di jalan, Ia hadir dan mengutus kita.

Adakah saat ini kita sedang merasa Tuhan pergi? Tunggulah. Tinggal sesaat saja, dan kita akan melihat Dia, dengan cara yang tidak kita duga.

Tuhan yang naik ke surga, ajarilah aku mengenali kehadiran-Mu yang baru di setiap sudut hidupku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →