Minggu, 18 April 2027
Bukan Orang Upahan
Ada beda yang tidak bisa disembunyikan antara warung yang dijaga pemiliknya dan warung yang dititipkan kepada orang upahan. Pemilik menghitung sampai ke bumbu terakhir. Ia datang paling pagi, pulang paling akhir. Orang upahan bekerja sesuai jam. Kalau ada kebakaran kecil, pemilik menerjang; orang upahan menyelamatkan diri dulu. Wajar saja. Yang satu terikat cinta, yang lain terikat gaji.
Pada Minggu Gembala Baik ini, Yesus memakai perbedaan itu untuk memperkenalkan diri-Nya: Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Sedangkan orang upahan, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari. Ia lari karena ia orang upahan; domba-domba itu bukan miliknya.
Lalu Yesus menambahkan kalimat yang menghangatkan: Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku, sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa. Ukuran pengenalan-Nya kepada kita bukan pengenalan seorang petugas kepada daftar nama, melainkan keakraban Bapa dan Anak. Kita bukan angka dalam kawanan. Kita dikenal satu per satu.
Dan ini bukan kata-kata manis belaka. Nyawa itu sungguh diberikan. Petrus dalam bacaan pertama menunjuk buktinya: Yesus yang kamu salibkan telah dibangkitkan Allah; Dialah batu yang dibuang tukang bangunan yang kini menjadi batu penjuru. Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia. Gembala kita sudah teruji di hadapan serigala paling buas, yaitu maut, dan Ia tidak lari.
Yohanes dalam bacaan kedua mengajak kita memandang akibatnya bagi kita: lihatlah, betapa besar kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah. Bukan sebutan kosong; memang begitulah keadaan kita. Domba yang digembalakan dengan nyawa ternyata diangkat menjadi anak.
Persoalannya, kita sering memilih gembala lain. Kita menitipkan hidup kepada yang tidak sanggup mati untuk kita: harta, jabatan, penilaian orang. Semuanya gembala upahan. Setia selama menguntungkan, lari begitu serigala datang.
Ada satu lagi kalimat Yesus yang tidak boleh kita lewati: ada lagi pada-Ku domba-domba lain yang bukan dari kandang ini. Kerinduan Sang Gembala lebih luas dari pagar kita. Setiap kali kita menutup pintu bagi orang yang berbeda, kita sedang menyempitkan hati yang oleh Yesus justru dilebarkan.
Minggu ini, beranilah bertanya: hidup saya sedang digembalakan siapa?
Yesus, Gembala yang baik, Engkau mengenal kami satu per satu dan menyerahkan nyawa bagi kami. Jangan biarkan kami menitipkan hidup kepada gembala upahan. Amin.