Sabtu, 17 April 2027
Jarum dan Benang Tabita
Ketika seseorang meninggal, barang-barang peninggalannya tiba-tiba berbicara. Sandal di depan pintu. Cangkir kesayangan. Baju yang masih tergantung. Benda-benda bisu itu menceritakan siapa pemiliknya.
Di Yope, seorang murid perempuan bernama Tabita meninggal dunia. Ketika Petrus datang ke ruang atas, para janda mengerumuninya sambil menangis. Yang mereka tunjukkan bukan surat wasiat atau harta, melainkan baju dan pakaian yang dijahit Tabita semasa hidupnya. Itulah warisannya: jahitan demi jahitan kebaikan untuk orang-orang kecil. Lukas mencatatnya sederhana: perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.
Petrus menyuruh semua keluar, berlutut, berdoa, lalu berkata: Tabita, bangkitlah. Dan perempuan itu membuka matanya. Kuasa kebangkitan Kristus menjangkau sebuah kamar duka di kota pelabuhan, dan banyak orang menjadi percaya.
Dalam Injil, banyak murid mengundurkan diri karena perkataan Yesus terasa keras. Yesus bertanya kepada kedua belas murid: apakah kamu tidak mau pergi juga? Petrus menjawab: Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal. Tabita agaknya sudah menjawab pertanyaan itu dengan jarum dan benangnya. Ia tinggal pada Tuhan, dan kasih-Nya mengalir lewat tangannya.
Kalau hidup kita selesai hari ini, benda apa yang akan orang tunjukkan sambil menangis?
Tuhan, sumber hidup kekal, ajarilah kami setia dalam kebaikan-kebaikan kecil yang berguna bagi sesama. Amin.