‹ Semua renungan

Jumat, 16 April 2027

Putar Balik di Tengah Jalan

Di jalan raya, putar balik itu keputusan yang tidak enak. Harus mengaku salah arah. Harus melambat, menepi, menunggu celah, lalu melawan arus yang tadi kita ikuti. Makin jauh kita melaju, makin berat rasanya berbalik.

Saulus sedang melaju kencang sekali. Berbekal surat kuasa, hatinya berkobar-kobar menuju Damsyik untuk menangkap para pengikut Jalan Tuhan. Lalu cahaya memancar dari langit. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara: Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? Perhatikan kata itu: Aku. Bukan mengapa engkau menganiaya mereka. Yesus menyatukan diri dengan orang-orang yang dianiaya. Menyakiti murid-Nya berarti menyakiti Dia.

Tiga hari Saulus buta dan tidak makan. Orang yang paling yakin arah hidupnya kini harus dituntun orang lain. Tetapi Allah tidak meninggalkannya di titik nol itu. Ia mengutus Ananias, murid yang semula takut, untuk menumpangkan tangan dan menyebutnya dengan sapaan yang mengharukan: Saulus, saudaraku. Seketika seperti selaput gugur dari matanya. Penganiaya itu bangun, dibaptis, dan mulai memberitakan Yesus.

Tidak ada orang yang terlalu jauh untuk berputar balik. Tidak ada arah hidup yang terlanjur, selama cahaya Tuhan masih bisa menghentikan kita.

Adakah arah hidup kita yang diam-diam kita tahu perlu diputar balik?

Tuhan Yesus, hentikanlah kami di jalan yang keliru, dan kirimkanlah bagi kami seorang Ananias yang menyapa kami sebagai saudara. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →