Kamis, 15 April 2027
Pendamping di Jalan Sunyi
Ada pengalaman yang hampir semua orang kenal: membaca sesuatu yang penting tetapi tidak paham. Membolak-balik halaman, mengulang kalimat yang sama, dan tetap gelap. Buku bisa dibeli. Pengertian tidak dijual di toko.
Di jalan sunyi dari Yerusalem ke Gaza, seorang pembesar Etiopia duduk di keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. Orang penting, kepala perbendaharaan ratu, terpelajar. Namun ketika Filipus bertanya, mengertikah tuan apa yang tuan baca, jawabannya jujur sekali: bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?
Kalimat itu layak kita gantung di dinding hati. Orang sebesar itu tidak malu mengaku butuh pembimbing. Dan Allah menghargai kerendahan hati itu. Roh sendiri yang mengutus Filipus mendekati kereta, duduk di sampingnya, dan bertolak dari nas Yesaya memberitakan Yesus. Perjalanan itu berakhir di sebuah mata air dengan pembaptisan, dan sida-sida itu meneruskan perjalanannya dengan sukacita.
Injil hari ini seakan memberi keterangan di balik peristiwa itu: tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa. Yang berjalan di jalan Gaza siang itu bukan hanya Filipus. Bapa sendiri sedang menarik satu hati kepada Anak-Nya.
Siapa yang dulu Allah utus duduk di samping kita menjelaskan iman? Dan di samping siapa kita diutus duduk hari ini?
Tuhan, terima kasih atas para pembimbing yang Kaukirim dalam hidupku. Utuslah aku menjadi teman seperjalanan bagi mereka yang mencari-Mu. Amin.