Senin, 5 April 2027
Kabar di Rumah Nazaret
Setiap keluarga hafal peristiwa ini: kabar bahwa seorang anak akan lahir. Satu kalimat pendek, dan seisi rumah berubah. Kamar diatur ulang. Nama-nama mulai ditimbang. Masa depan tiba-tiba punya wajah. Kabar kelahiran selalu lebih besar daripada kalimat pendek yang membawanya.
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Kabar Sukacita. Biasanya perayaan ini jatuh tanggal dua puluh lima Maret, sembilan bulan sebelum Natal. Tahun ini ia dipindahkan, mengalah kepada Pekan Suci dan Oktaf Paskah. Ada yang indah dari perpindahan itu. Kabar tentang awal hidup Yesus justru kita rayakan dalam terang kebangkitan-Nya. Palungan dan kubur kosong ternyata satu cerita.
Di Nazaret, seorang gadis muda mendengar salam malaikat. Ia bertanya, bagaimana mungkin. Pertanyaan yang sangat manusiawi. Namun Maria tidak berhenti pada tidak mungkin. Ia berhenti pada jadilah padaku menurut perkataanmu. Sejak kalimat itu, Allah mengandung di rahim manusia. Kabar sukacita menjadi daging karena ada yang berani berkata ya.
Injil hari ini menghadirkan penanya yang lain: Nikodemus. Ia datang kepada Yesus pada waktu malam. Orang terpelajar, pemimpin agama, tetapi membawa kegelisahan. Yesus berkata kepadanya: kamu harus dilahirkan kembali. Nikodemus bingung. Bagaimana mungkin orang tua masuk lagi ke rahim ibunya? Pertanyaannya mirip pertanyaan Maria. Bagaimana mungkin.
Jawaban Yesus menunjuk ke atas: yang lahir dari daging adalah daging, yang lahir dari Roh adalah roh. Angin bertiup ke mana ia mau. Engkau mendengar bunyinya, tetapi tidak tahu dari mana datangnya. Kelahiran baru itu karya Allah, bukan proyek manusia. Sama seperti kandungan Maria: bukan hasil rencana manusia, melainkan karya Roh Kudus.
Bacaan pertama memperlihatkan buah kelahiran baru itu. Jemaat perdana diancam dan dilarang bicara. Mereka tidak menyusun siasat. Mereka berdoa. Dan tempat mereka berkumpul bergoyang, semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman dengan berani. Orang-orang yang dulu bersembunyi kini lahir menjadi pemberani. Angin Roh itu tidak kelihatan, tetapi akibatnya menggetarkan. Begitulah cara Allah bekerja: sunyi di awal, nyata di ujung.
Kabar sukacita selalu menuntut rahim yang bersedia. Maria menyediakan rahimnya bagi Sang Sabda. Kita diminta menyediakan hati bagi kelahiran baru yang sama.
Hari ini, kalau Allah mengirim kabar yang mengubah rencana hidup kita, sanggupkah kita menjawab seperti Maria: jadilah padaku?
Tuhan, bersama Maria kami berkata: jadilah padaku menurut perkataan-Mu. Lahirkanlah kami kembali dari air dan Roh. Amin.