Selasa, 6 April 2027
Arah Angin
Angin tidak pernah kelihatan. Yang kelihatan hanya akibatnya. Daun kelapa meliuk. Jemuran terangkat. Layang-layang anak-anak naik. Kita tahu angin ada bukan karena melihatnya, melainkan karena melihat apa yang digerakkannya.
Kemarin kita mendengar Yesus berkata kepada Nikodemus tentang angin yang bertiup ke mana ia mau. Hari ini percakapan itu berlanjut. Nikodemus masih bingung: bagaimana mungkin hal itu terjadi? Yesus balik bertanya, engkau pengajar Israel dan tidak mengerti? Rupanya kepandaian tidak otomatis membuat orang mengenali karya Roh. Roh dikenali seperti angin dikenali: dari yang digerakkannya.
Bacaan pertama menunjukkan gerakan itu. Jemaat perdana sehati sejiwa. Tidak ada yang berkekurangan, sebab yang berpunya rela menjual miliknya. Ada satu nama yang dicatat: Yusuf, orang Lewi dari Siprus, yang menjual ladangnya dan meletakkan uangnya di depan kaki para rasul. Para rasul memberinya nama baru, Barnabas, artinya anak penghiburan.
Ladang yang dilepas itu seperti daun yang meliuk. Ia tanda bahwa angin Roh sedang bertiup di hati seseorang. Iman yang sejati memang selalu meninggalkan jejak yang bisa dilihat orang lain.
Kalau hidup kita diperiksa hari ini, adakah satu jejak nyata yang menunjukkan Roh pernah bertiup di dalamnya?
Roh Kudus, bertiuplah dalam hidupku, dan gerakkanlah aku untuk berbagi seperti Barnabas. Amin.