‹ Semua renungan

Minggu, 4 April 2027

Luka yang Tidak Dihapus

Coba perhatikan lutut atau lengan kita. Hampir semua orang punya bekas luka. Bekas jatuh dari sepeda waktu kecil. Bekas pisau dapur yang meleset. Kulit sembuh, tetapi tandanya tinggal. Tanda itu ikut ke mana-mana. Dan anehnya, dari bekas-bekas itulah kita paling sering bercerita.

Minggu lalu kita berdiri di depan kubur kosong bersama Petrus dan Yohanes. Hari ini, pada Minggu Kerahiman Ilahi, kita masuk ke ruangan terkunci tempat para murid bersembunyi. Yesus datang, berdiri di tengah mereka, dan memberi salam: damai sejahtera bagi kamu. Lalu Ia melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia menunjukkan tangan dan lambung-Nya.

Tubuh kebangkitan itu tubuh mulia. Ia bisa menembus pintu terkunci. Tetapi mengapa bekas pakunya tidak ikut hilang? Bukankah Allah sanggup menghapusnya sampai licin tanpa cacat? Rupanya luka itu sengaja dibawa. Luka itu bukan aib yang harus disembunyikan, melainkan bukti cinta yang layak ditunjukkan. Dari lubang paku itulah mengalir kerahiman: lihat, sebegini kamu dikasihi.

Tomas tidak hadir waktu itu. Ia menuntut bukti: sebelum aku mencucukkan jariku ke bekas paku itu, aku tidak akan percaya. Delapan hari kemudian Yesus datang lagi, dan yang pertama Ia tawarkan kepada Tomas justru luka-Nya. Taruhlah jarimu di sini. Tidak ada nada tersinggung. Tidak ada kata kamu keterlaluan. Kerahiman ilahi memang begitu: ia menjemput keraguan kita di tempat keraguan itu berdiri. Dan Tomas pun mengucapkan pengakuan iman terindah dalam Injil: ya Tuhanku dan Allahku. Dari keraguan yang paling keras lahir pengakuan yang paling dalam.

Kerahiman yang diterima lalu menular. Bacaan pertama melukiskan jemaat perdana yang sehati sejiwa. Tidak seorang pun menyebut miliknya sebagai milik sendiri. Yang punya menjual, hasilnya dibagi menurut keperluan, sampai tidak ada yang berkekurangan. Komunitas itu menjadi semacam tubuh Kristus yang kelihatan: penuh bekas luka masing-masing, tetapi saling merawat.

Kita sering memperlakukan luka secara terbalik. Luka sendiri kita sembunyikan rapat-rapat. Luka orang lain kita ungkit-ungkit. Yesus mengajarkan arah sebaliknya: luka-Nya dibuka supaya orang lain sembuh dan percaya. Luka yang diserahkan kepada Tuhan berubah menjadi pintu rahmat.

Di Minggu Kerahiman ini, beranikah kita membiarkan bekas luka kita, kegagalan yang sudah diampuni Tuhan, menjadi cerita yang menguatkan orang lain?

Ya Tuhanku dan Allahku, dari luka-Mu mengalir kerahiman bagi dunia. Jadikanlah luka-luka kami yang telah Kausembuhkan menjadi saluran belas kasih bagi sesama. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →