Minggu, 14 Februari 2027
Busur yang Digantung
Februari begini langit sering berulah: hujan deras, lalu tiba-tiba terang. Dan sesekali, di sela dua cuaca itu, muncul lengkung warna di langit. Anak-anak berteriak menunjuknya. Orang dewasa pun diam-diam ikut tersenyum. Pelangi memang tidak pernah gagal menghibur. Ilmu boleh menjelaskannya sebagai cahaya yang dibiaskan titik-titik air; hati tetap saja terpesona.
Bacaan pertama menyebut pelangi dengan kata yang jarang kita sadari: busur. Busur-Ku Kutaruh di awan, firman Allah kepada Nuh. Busur adalah senjata perang. Maka gambarnya berani sekali: sesudah air bah, Allah menggantung senjata-Nya di langit. Setiap pelangi adalah pengumuman gencatan senjata dari pihak Allah, tanda bahwa Ia memilih berdamai dengan bumi. Gencatan itu tidak pernah dicabut sampai hari ini.
Yang mengharukan, perjanjian dengan Nuh itu sepihak. Allah tidak mengajukan syarat apa-apa. Aku akan mengingat perjanjian-Ku, kata-Nya. Tanda di awan itu bukan pengingat bagi manusia, melainkan bagi Allah sendiri. Kasih setia yang memasang pengingat untuk diri-Nya sendiri.
Petrus dalam bacaan kedua membaca air bah sebagai kiasan baptisan: air yang sama menenggelamkan dan menyelamatkan. Kita yang dibaptis adalah penumpang bahtera yang baru, diselamatkan oleh kebangkitan Kristus.
Lalu Injil membawa kita ke padang gurun. Markus menceritakan pencobaan Yesus hanya dalam dua ayat, tanpa dialog. Tetapi ada detail kecil yang hangat: Ia berada di antara binatang-binatang liar, dan malaikat-malaikat melayani Dia. Seolah-olah di sekeliling Adam yang baru ini, permusuhan lama mulai mencair. Gurun yang ganas menjadi taman kecil perdamaian.
Empat puluh hari Yesus di gurun menjadi pola empat puluh hari Prapaskah kita. Gurun adalah tempat tanpa hiburan dan tanpa persediaan, tempat manusia berhenti berpura-pura kuat. Justru di sana suara Allah paling jernih terdengar. Prapaskah mengajak kita membuat gurun kecil: mengurangi yang bising, memangkas yang berlebih, supaya ada ruang sunyi untuk mendengar. Empat puluh hari cukup panjang untuk membentuk kebiasaan baru, dan cukup singkat untuk tidak menakutkan.
Dari gurun itu Yesus keluar membawa kalimat pertama-Nya: waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah dan percayalah kepada Injil. Perhatikan urutannya: kabar baik dahulu, baru ajakan bertobat. Kita berbalik bukan karena diancam, melainkan karena disambut. Di atas kepala kita, busur itu sudah lama digantung.
Allah yang setia, Engkau menggantung busur-Mu dan mengulurkan tangan-Mu. Tuntunlah aku melewati gurun Prapaskah ini menuju janji-Mu. Amin.