Sabtu, 13 Februari 2027
Pesta di Rumah Lewi
Kemarin Yesaya berbicara tentang puasa yang benar: memecah roti bagi yang lapar. Hari ini janji lanjutannya dibacakan: terangmu akan terbit dalam gelap, dan engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik.
Lalu Injil memberi contoh hidup dari orang yang berbalik total: Lewi, si pemungut cukai. Satu kalimat dari Yesus, ikutlah Aku, dan Lewi meninggalkan meja cukainya. Menariknya, langkah pertamanya sebagai murid bukan menyepi, melainkan mengadakan perjamuan besar di rumahnya. Pertobatan yang sehat ternyata berbau masakan, bukan hanya air mata. Sukacita adalah tanda pertobatan yang paling sulit dipalsukan.
Orang Farisi bersungut-sungut: mengapa makan dan minum bersama pemungut cukai dan orang berdosa? Jawaban Yesus menjadi salah satu kalimat paling melegakan dalam Injil: bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Yesus datang bukan untuk orang yang merasa benar, melainkan untuk orang yang tahu dirinya sakit dan berani berkata jujur tentang itu.
Maka Prapaskah bukan musim murung. Ia musim orang sakit yang gembira karena Tabibnya bersedia datang ke rumah.
Beranikah kita duduk semeja dengan orang yang oleh banyak pihak dianggap tidak pantas?
Tuhan, akulah orang sakit itu. Sembuhkanlah aku, lalu ajarilah aku ikut menjamu, bukan menghakimi. Amin.