Jumat, 12 Februari 2027
Puasa yang Sampai ke Tetangga
Ada orang berpantang gula tetapi kata-katanya tetap pahit. Ada yang tidak makan daging tetapi tega memotong upah pekerja. Puasanya jalan, hidupnya tidak ikut.
Keluhan semacam itu ternyata setua kitab Yesaya. Umat protes: mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya? Jawaban Tuhan telak: pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu dan mendesak-desak semua buruhmu. Bahkan berpuasa sambil berbantah dan berkelahi. Puasa itu berhenti di perut, tidak sampai ke tangan, tidak sampai ke tetangga. Ibadahnya berhenti di pintu rumah sendiri.
Lalu Tuhan menyebut puasa yang dikehendaki-Nya, dan daftarnya mengejutkan: membuka belenggu kelaliman, memerdekakan orang teraniaya, memecah roti bagi yang lapar, membawa pulang orang miskin yang tidak punya rumah. Puasa sejati bukan soal apa yang tidak masuk ke mulut kita, melainkan apa yang keluar dari tangan kita. Perut boleh kosong, asal tangan penuh. Barulah, kata Yesaya, terangmu akan merekah seperti fajar.
Yesus menambahkan satu kunci: puasa adalah soal rindu kepada Sang Mempelai, bukan pameran dukacita. Ketika Mempelai itu terasa jauh, di situlah puasa menemukan artinya.
Puasa kita tahun ini, siapa yang ikut merasakan buahnya selain diri kita sendiri?
Tuhan, jadikanlah puasaku roti bagi orang lapar, bukan sekadar lapar bagi diriku sendiri. Amin.