‹ Semua renungan

Rabu, 10 Februari 2027

Koyakkan Hatimu

Petani tahu rahasia abu. Jerami sisa panen dibakar, abunya ditebar kembali ke sawah, dan tanah menjadi subur. Yang tampak seperti akhir ternyata bahan awal kehidupan baru. Barangkali itu sebabnya Gereja memilih abu, bukan lencana, untuk membuka masa Prapaskah.

Hari ini dahi kita ditandai abu. Kalimat pengiringnya tidak ada yang manis: bertobatlah dan percayalah kepada Injil. Atau yang lebih tua: ingatlah, engkau debu dan akan kembali menjadi debu. Sekali setahun Gereja menyuruh kita menatap kenyataan yang paling sering kita hindari: kita fana.

Tetapi nabi Yoel buru-buru memasang rambu supaya kita tidak salah arah: koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu. Pada zaman itu orang berkabung dengan merobek baju. Robekan baju bisa dilihat semua orang; robekan hati hanya dilihat Allah. Upacara paling khusyuk pun bisa kosong kalau hatinya utuh tidak tersentuh, masih sekeras kemarin. Allah tidak bisa dikelabui oleh kain yang robek.

Injil hari ini menggemakan peringatan yang sama. Yesus membahas tiga latihan klasik: sedekah, doa, puasa. Ketiganya baik. Ketiganya juga bisa berubah menjadi panggung. Maka resep-Nya satu: kerjakanlah tersembunyi. Tangan kiri tidak perlu tahu urusan tangan kanan. Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya. Prapaskah adalah empat puluh hari melatih hidup yang tidak membutuhkan penonton. Bukan karena penonton itu jahat, melainkan karena tepuk tangan mereka cepat sekali menggantikan upah dari Bapa.

Kata tobat dalam bahasa Ibrani, shub, artinya sederhana: berbalik. Bukan pertama-tama menangis, bukan menyiksa diri, melainkan memutar arah jalan. Orang tersesat tidak ditolong oleh penyesalan yang panjang; ia ditolong oleh keputusan untuk berbalik. Dan Yoel memberi alasannya: berbaliklah kepada Tuhan, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Kita berani berbalik bukan karena kita kuat, melainkan karena yang menunggu di ujung jalan itu Dia. Yang menunggu bukan hakim dengan palu, melainkan Bapa dengan pelukan.

Paulus menambahkan nada mendesak: sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; hari ini adalah hari penyelamatan itu. Bukan besok. Bukan nanti kalau sempat. Hari ini.

Maka mari mulai dengan jujur. Empat puluh hari ke depan, apa satu hal yang sungguh perlu dibalik dalam hidup kita? Satu saja, tetapi dari hati.

Tuhan yang pengasih dan penyayang, koyakkanlah hatiku yang keras, dan tanamlah benih hidup baru di bekas abunya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →