Selasa, 9 Februari 2027
Cermin yang Berjalan
Kemarin kita mendengar empat hari pertama penciptaan: terang, langit, darat, dan benda-benda penerang. Semuanya baik. Hari ini kisah itu tiba di puncaknya, dan iramanya berubah.
Untuk ciptaan lain, Allah cukup berfirman: jadilah. Untuk manusia, Ia seperti bermusyawarah dahulu: baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita. Hanya manusia yang disebut gambar Allah. Bukan patung-Nya yang diam, melainkan cermin hidup yang berjalan ke mana-mana. Sungguh gagasan yang berani. Dan penilaian Allah pun naik kelas: bukan lagi sekadar baik, melainkan sungguh amat baik.
Konsekuensinya berat sekaligus indah. Memandang manusia mana pun, kita sedang memandang pantulan Allah. Menghina manusia berarti mencoret gambar-Nya. Tidak ada manusia yang boleh diperlakukan sebagai barang. Termasuk diri kita sendiri, pada hari-hari ketika kita merasa tidak berharga.
Dalam Injil, Yesus menegur orang yang sibuk mengurus pembasuhan cawan dan kendi tetapi menelantarkan orang tuanya dengan dalih persembahan. Ritual dirawat, gambar Allah diabaikan. Urutannya terbalik. Allah tidak bisa disuap dengan upacara yang rapi.
Adakah gambar Allah di rumah kita sendiri yang belakangan lebih sering kita abaikan daripada kita rawat?
Tuhan, ketika aku memandang wajah sesamaku hari ini, ingatkanlah aku bahwa aku sedang memandang karya tangan-Mu. Amin.